skip to main |
skip to sidebar
RSS Feeds
serpihan cerita yang terbuang dari bumi khatulistiwa
coretan kata-kata terjelek dari penulis terbodoh
coretan kata-kata terjelek dari penulis terbodoh
23.42
Diposting oleh Haris Firmansyah
Tujuan ku adalah desa sungai Enau, kec. Kuala mandor B, kab. Kubu raya. Tepatnya smpn 3. Sebelumnya aku sudah pernah surve, di MTS Walisongo tempatku memantau ujian. Kamis kemaren. Di daerah kubu padi. Pa’ dody guru mts walisongo yang ku temui disana. Hanya memberikan alamat tempat sekolah mereka nginduk buat ujian. Ya alamat yang di berikannya seperti apa yang kutulis di tujuan ku.
Selain itu p’dody juga memberiku no hp kepsek mts walisongo pak faisal namanya. sebelum barangkat, aku sudah menghubungi beliau. Aku dirsuruh pergi sesuai alamat yang diberi pa’dody lalu cari rumah pak Ibrahim katanya. Karena anak-anak mts walisongo juga bakalan nginap disana termasuk beliau juga.
Setelah beberapa jam aku di motor air, pukul 11.30 wib.
Ku panggil salah satu awak motor air “sinar bulan”, ku beritahu tujuanku. Lalu ia pergi menuju orang yang mengendalikan setir motor air. Sepertinya ia member i tahukan tujuanku. Orang disampingnya bertanya padanya. Mereka ngobrol sambil menunjuk kearahku. Entah apa? tak kedengaran di telingaku. Pikiranku mulai negative. “sepertinya ada yang tak beres ni” bisikku dalam hati.
Beberapa menit kemudian, abang yang tadi memanggil ku. Katanya sudah dekat. Aku disuruh menuju pintu depan motor air. Si bodoh yang tak tahu di mana alamat tujuannya ini pun mengikuti apa yang disuruh abang itu. “sudah sampai”. Katanya judes. Wah semakin tak enak perasaanku. Aku diberhentikan di seteher yang sepi seperti tanpa penghuni. Pikiranku semakin negative “jangan-jangan orang-orang ini mengerjaiku”. Aku tak mau langsung turun. Ku bertanya lagi, “benar ini tempatnya?” orang-orang berkulit hitam mungkin kawan-kawan abang itu keluar. semua mata tertuju padaku. Aku terdesak secara emosional. Habis aku ditanya-tanyai seperti penjahat. Kau mau kemana? Mau ngapain? Kerumah siapa? Semuanya ku jawab. Dan aku masih tak percaya bahwa seteher ini adalah tempat tujuanku. Aku beritahu kamis kemaren aku sudah pergi surve, aku lihat ada smp di dekat sungai. Aku yakin itulah smpn 3. Mereka semakin mendesak ku. “ mana ada lagi smp negri disini, kecuali disini”. Dari dalam ada yang bicara lagi suaranya agak sedkit seram “kau masuk saja, nanti kau Tanya sama orang disana”. Si bodoh ini pun turunlah dari motor air. Ku bayar 15.000. begitu ku bayar tak lagi ada kata yang mereka keluarkan kecuali tatapan sinis dan langsung pergi meninggalkanku.
Sekarang aku berada dalam situasi yang bagiku begitu menegangkan. Aku berdiri di sebuah seteher yang seram, sepi dan sunyi. Sesekali hanya kedengaran suara-suara yang asing ditelingku. Suara yang jarang kedengaran ditengah kota pontianak. Disamping seteher ada gudang, tak tahu gudang apa itu, lampunya hidup. Di depan seteher terbentang sungai, di belakang hanya ada jalan dengan lebar setengah meter, jalanya lurus, diujung jalan kelihatan rumah beratap daun. Jalannya gelap. Sisi kanan kiri hutan. Ku langkahkan kakiku menelusuri jalan itu. Baru sampai separuh jalan, kutarik lagi langkahku. Kembali di seteher itu. pikiranku semakin kacau, pasti mereka yang berada di motor air itu tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengerjaiku. Sumpah serapah yang tak pernah keluar dari mulutku, akhirnya keluar. Nama-nama binatang pun kukeluarkan. Seolah-olah aku seperti mengabsen satu persatu binatang itu. Aku bingung mau melakukkan apa. Aku tak tahu aku berada di daerah mana. Ku buka hpku, sinyal satu pun tak ada.
Bertanya tak ada satu orang pun. Ku perhatikan papan nama desa yang dibuat mahasiswa untan yang pernah kkn disini. Papanya tertulis “RUMAH + 400 m”, selain itu juga ada coretan kecil mengunakan pensil tertulis “smpn 3”. Ku yakinkan diriku lagi bahwa daerah ini benar tujuanku. Ah…tapi…kok tempatnya seram. Keragu-raguan mulai menguasai. Sekali lagi kuyakinkan diriku. Kumantabkan langkahku. Kutarik nafas dalam-dalam. Ku busungkan dadaku. Ya…langkahku jadi mantab. Dengan menyebut asma Allah ku melangkah “bismilahirrahmanirahim”.
Beberapa langkah kedepan, bulu tengkukku merinding. Disis kiri jalan hutan yang lebat begitu banyak suara-suara aneh, disemak-semak sana bergerak-gerak. Pikiranku tak karuan. Nyaliku hampir ciut. Kalau aku mundur aku tak bisa ngapa-ngapain tapi kalau tetap maju pasti ada orang yang bisa kutanyai. Ku terus berjalan dalam ketakutanku. Kurang lebih 400 meter dari seteher rupanya ada perkampungan. Lumayan banyak rumah. Ada persimpangan ku belok sebelah kanan. Ada bapak yang mengunakan baju tentara. “permisi pak, smpn 3 disini dimana ya?”, Alhamdulillah bapak itu ramah, dia beritahu jalanya. Katanya ikut saja jalan setapak ini yang sebelah kiri nanti pasti ketemu smpn 3.
Ku ikuti petunjuk bapak itu. aku mulai yakin daerah ini tempat tujuanku.
Jam 12.05 wib
Panas matahari semakin membuat kulit hitamku bertambah legam. Aku keluarkan buku hitamku, disitu ada no hp pak faisal. Sudah kurang lebih 200 m ku berjalan dari tempat bapak berbaju tentara itu tak kunjung kulihat papan nama sekolahan yang kucari. Keyakinanku mulai luntur. Ku telpon pak faisal, ku bertanya lagi alamat smpn 3. Alhamdulillah jawabannya sesuai dengan daerah ini.
Sunyi kampung ini membuat aku agak sedikit takut, kembali ku keluarkan hpku. Ku telpon seorang gadis (tak perlu kusebutkan namanya) yang ku anggap dapat menemaniku dalam ketakutanku. Baru beberapa menit nelpon, beberapa meter di depanku berjalan seorang bapak menggunakan caping. Ia menyapaku, lalu ku bertanya. Dimana smpn 3 dan rumah pak Ibrahim. Alhamdulillah bapak yang kujumpai baik, namanya pak ino. Guru sd. Berasal dari suku dayak. Pak ino menunjukanku di mana smpn 3 dan mengantarku ke rumah pak Ibrahim. Akhirnya aku sampai dimana tempat tujuanku.
Ais.
31-3-2010
Ukm center
23.40
Diposting oleh Haris Firmansyah
Kawan, hari dimana telah lama terbayangkan olehklu pun terjadi. Dan itu karena ulahku sendiri yang tak menghargainya sebegai seorang gadis yang mencitaiku. Semua keadaan tercipta dalam situasi yang tak mengeanakan. Aku larut dalam segala hal yang kuanggap penting bagiku. Aku sibuk. Aku lupakan dirinya. Kini semuanya hanya tinggal kenangan. Ma’afkan aku!
Diruang 10 dikampusku ini aku menggerakan jari jemariku, mengetik setiap huruf di leptop hingga terngkai dalam beberapa kalimat, kembali menginggat apa yang terjadi tadi malam di tepi jalan ayani ketika aku duduk berdua dengannya membicarakan masalah-masalah dalam hubungan kami. Kali ini ia lebih tanpa beban kulihat, namun masih tetap sama seperti sebelum-sebelumya yakni diamnya. Ku coba membuka pembicaran dengan canda-canda basi lalu kami diam dalam gemuruh kendaraan di jalan ayani. Bicara sesekali lalu diam lagi. Seperti takut-takut. Tapi kupikir masalah kami harus selesai secepatnya. Ku beranikan diri, menggerakan lidahku yang begitu kelu. “bang kira kita berdua sudah tau masalahnya gimana, jadi gak perlu kita bicarakan lagi”. Ia tersenyum menolehku, aku memandang matanya dan membalas senyumnya. Tanganku memainkan sesuatu. Mencoba melawan rasa takut.
Setelah banyak yang kami bicarakan, kami diam lagi. Beberapa menit kemudian. “pasti tak maukan kita dalam keadaan seperti ini terus”. Kataku menoleh kearahnya. “ya gaklah, Rien memang cuek dalam hal pribadi”. Sepontan kujawab ”cuek, itu aritnya hubungan kita tak ada artinya bagi Rien?”. Lalu ia jawab “mungkin” sambil mengerakan kepalanya. Ku bertanya lagi padanya “kenapa gak dari dulu ngomong?”. “mang bang pernah punya waktu buat rien?” nadanya agak sedikit naik, seperti agak marah. Aku terdiam, memang salahku. Aku akui itu.
Entah sudah berapa ratus kendaraan lewat didepan kami, kami tak peduli itu. kali ini harus benar-benar serius. “jadi yang terbaik buat kita?” tanyaku. “kita sudahan saja” jawabnya santai. Aku terperangah. Tak percaya ia begitu santainya mengeluarkan kata-kata itu. itu artinya hubungan kami berakhir. Tapi aku sadar ia begitu santai karena sudah tak lagi tahan dengan sikapku padanya.
Ya..malam itu. hubungan kami berakhir. Kuberharap aku dan rien tetap berteman.
Sebenarnya masih ada lagi yang mau kutulis, tapi aku…..
Ah sudahlah, cukuplah aku.
14/3/2010
Ais.oarang aneh