THE POWER OF cinta



FARID pemuda yang cerdas, baik dan tampan. Ia merupakan sesosok pria yang mungkin dambaan para wanita, yang membuat setiap gadis yang melihat dan mengenalnya akan jatuh cinta padanya. Begitu jugalah yang terjadi terhadap seorang gadis yang tergolong sederhana di tempat Farid tinggal, seorang gadis yang memiliki aura yang berbeda dari setiap gadis yang ada ditempatnya itu, bahkan dapat dikatakan gadis ini merupakan bidadari yang tersembunyi dalam kesederhanaan yang indah, ia tidak begitu cantik tapi wajahnya manis dan tidak membuat seorangpun bosan memandangnya, di balik jilbab yang dipakainya menunjukan kecantikan yang dimilikinya tidak cuma berasal dari paras dan bentuk tubuhnya tapi hatinya jauh lebih cantik.
Ia adalah Astrid, nama lengkapnya Astrid Kumala Sari. Astrid inilah yang yang telah mencuri hati Farid.
Mereka berdua saling mencintai tapi tidak seorang pun yang tahu termasuk diri mereka sendiri. Kenapa bisa begitu? Karena antara mereka berdua tidak ada yang berani untuk mengungkapkan perasaannya hinggga membuat cinta yang suci tersembunyi dibalik tirai kemaluan dan ketakutan dihati mereka.
***
Angin malam ini meniupkan ketenangan dalam perputaran waktu, yang tidak akan pernah lelah untuk berputar yang dapat masuk kerelung kalbu, mendamaikan suasana hati setiap insan yang merasakan hembusannya. Membuat Farid dan Harfi rela mengahabiskan waktunya duduk di teras rumah Farid yang berhadapan dengan rumah Astrid sambil saling bercengakrama. Saat asik ngobrol tiba-tiba dari kejahuan tampak seorang gadis menggunakan jilbab biru yang membuatnya tampak anggun berjalan menuju arah mereka, ternyata itu Astrid yang baru pulang dari kuliah karena ada jam kuliah malam hari kamis ini. Suasana menjadi lebih sunyi, kedua mata pria ini terpana melihat kecantikan Astrid yang membungkam mulut mereka, hingga canda dan tawa yang ada menjadi seperti hamparan padang pasir yang ada hanya hembusan angin, yang membuat mereka terbius dengan keindahan ciptaan Tuhan paling sempurna dalam fatamorgana cinta yang tinggi.
“Assalamualaikum...........!!.” sapa astrid yang membelah kesunyian.
Tidak ada yang menjawab salamnya, mungkin Farid dan Harfi telah terbang jauh dalam khyalan tingkat tinggi menyaksikan keindahan cinta.
“Assalamulaikum............!!”Astrid meningkatkan volume suaranya, Farid kaget tapi Harfi masih berada dalam khyalanya itu.
Sambil tebata-bata Farid menjawab salam Astrid ”wa..wa..alaikum sa...salam.” mungkin Farid malu dengan apa yang terjadi.
“baru pulang kuliah AS??.” tanya Farid menghilangkan malu, sedangkan Harfi masih tetap seperti itu.
“iya ni Farid, soalnya tiap hari kamis ada jam kuliah malam.” Jawab Astrid sambil memegang tas kuliahnya.
“Udah dulu ya...Far, aku capek mau istirahat dan besok mesti kuliah lagi.” Sambung Astrid yang menunjukkan wajah yang lelah seperti habis berjalan melintasi samudra.
“assalamuilaikum...!!.”
“waalaikumsalam...!!.”
Astrid pulang menuju rumahnya tapi Harfi belum juga sadar dari khyalannya, Harfi memiliki cinta yang besar yang kadang tidak dapat dikontrolnya itulah yang membuatnya seperti ini dan itu juga yang membuat Farid tetap menjaga perasaannya karena Farid tahu benar sifat temannya itu. Dan Harfi banyak menujukan perubahan yang baik semenjak kenal sama Astrid dua tahun yang lalu, cinta Harfi pada Astrid telah menunjukan bahwa The Power Of Love itu benar-benar ada dan kekuatan yang dimilikinya jauh melebihi apapun kecuali Allah, karena Dialah yang menciptakan dan memberikan kekuatan cinta itu kepada setiap hambanya, yang mampu merubah setipa insan yang merasakan kekuatannya. Dulunya Harfi merupakan sesosok manusia yang tidak mempunyai tujuan hidup seolah semuanya menjadi gelap dalam pandangan batinnya, yang membuatnya menjadi manusia yang paling pesimis, bahkan dulu ia pernah mencoba bunuh diri syukurnya Farid dapat menyelamatkannya. Kepesimisannya dalam kehidupan itu berawal dari kematian seluruh anggota keluarganya dalam kecelakaan pesawat terbang. Pristiwa itu terjadi pada saat seluruh anggota keluarganya. bapak, ibu dan adik-adiknya mau pergi berlibuaran ke jakarta, saat itu Harfi tidak bisa ikut karena harus mengurus pendaftaran kuliahnya bersama Farid. Pesawat yang terbang dari bandara Supadio Pontianak itu mengalami kenaasanya pada saat lepas landas yang tiba-tiba meledak tidak diketahui penyebabnya apa, sampai saat ini masih dalam penyelidikan polisi. Oleh karena itu jugalah Farid tidak mau membuat temannya kembali dalam lingkaran kepesimisan, dia akan mencoba merelakan cintanya demi kebahagiaan sahabatnya, baginya sahabat itu jauh lebih berharga dari pada wanita manapun kecuali ibunya biarpun wanita itu yang ia cintai dan yang di harapkannya menjadi kekasih hati untuk mendampingi dirinya dalam mengarung kehidupan ini.
Farid tersenyum melihat sikap Harfi yang berlebihan seperti itu.
“kamu kenapa Har?.”tanya Farid
“woy.........Har kamu kenapa sih?.” Tanya farid sekali lagi dengan kesal, harfi kaget lalu sadar.
“i..i..iya Far ada apa?.”kata Harfi sambil terbata-bata
“ni orang ditanya eh malah balik tanya, kamu tu kayak orang bodoh tadi”
“ga’ ada apa-apa kok.”
“yang bener....?jangan bohong!.”
“aku cinta sama Astrid.”kata Harfi pelan
Farid tediam mendengar kata-kata yang keluar dari mulut temannya itu, nafasnya sesak, hatinya pilu dan perih. Tapi dia harus tetap tegar demi seorang sahabat yang amat ia sayangi.
“Sabar Farid, menyemprunakan cinta itu harus butuh pegorbanan biarpun orang yang kita cintai tidak dapat kita miliki dan kebahagian akan lebih terasa jika melihat orang yang dekat kita bahagia dengan cintanya, walaupun kebahagiaan itu amat sangat sulit untuk didapatkan.” Gumam Farid dalam hatinya.
“Far kok kamu yang malah bengong?aku mau pulang dulu ni, udah malam.” Kata Harfi sambil melihat jam tangannya yang baru dibelinya tadi siang. Keduanya pun berdiri dari tempat duduknya.
“iya Har, hati-hati pulang jalan kerumah kamu tu sepi banget.”
“ah...kamu Far nakut-nakutkan aku aja,Assalamualaikum...Far!!.”
“Waalaikumsalam...........!!.”
Setelah Harfi jauh meninggalkan rumahnya Farid kembali duduk dikursi rotan buatan ayahnya, Farid masih kepikiran dengan kata-kata yang dikeluarkan Harfi. Tiba-tiba hpnya yang ada di atas meja berbunyi, ada sms yang masuk ternyata dari Astrid. Kesedihannya seketika sirna ditelan kebahagiaan karena menerima sms dari pujaan hati.
“Ass Farid!!ko’ bengong?mikrn apaan?dah mlm tu...,tidur sana.kan besok u ad kuliahkan??.”
Awalnya ia tidak percaya dengan hal itu, bahkan sampai tiga kali membaca sms itu pun Farid masih belum percaya jika yang mengirim sms itu adalah Astird. Tapi ketika ia melihat jendela kamar Astrid, sepintas seperti ada seorang gadis yang mengintip malu dibalik tirai jendela biru itu, Farid tidak sadar ternyata dari tadi Astrid memperhatikannya dari balik jendela kamar Astrid yang berada tepat didepan kamarnya dan dibalik jendela yang tertutupi tirai biru yang indah itu Astrid dapat melihat dengan leluasa rumahnya termasuk juga teras tempat Farid duduk bersama Harfi tadi. Walaupun Astrid dari tadi memperhatikannya tapi dia tidak dapat mendengar apa yang Farid dan Harfi bicarakan karena jendela kamarnya tertutup rapat oleh kaca yang meredam suara luar yang membuat pembicaraan mereka tidak dapat didengar oleh Astrid. Sekarang ia yakin jika sms itu dari Astrid. Farid senang bukan main seolah bunga bertumbuhan dihatinya yang menciptakan taman bunga yang indah hingga siapa pun yang berada disitu, dijamin tidak akan pernah mau meninggalkannya karena dia merasa mendapatkan perhatian dari pujaan hati yang membangun singgasana cinta yang megah di dalam taman bunga yang indah itu. Kebahagiaan Farid itu bercampur dengan kebingungan yang mendalam, bagaimana caranya membalas sms itu?. Beberapa menit kemudian ia memutuskan untuk tidak membalas sms Astrid bukan sengaja tidak mau membalas tapi pulsa yang ada dia kartu hpnya itu hanya ada Rp.1 maklum bulan tua.. Bagaimana mau ngisi pulsa?, kemaren aja mau ngisi bensin motor, Farid tidak ada uang terpaksa ia pergi kekampus jalan kaki mungkin besok juga seperti itu, jarak antara kampus dari rumahnya itu lumayan jauh kira-kira 2 km.
***
Keesokan harinya, sepulang Farid dari kuliah tiba-tiba ia dikejutkan dengan keramaian yang ada dirumahnya. Saat Farid masuk ke rumahnya, semuanya sepontan tiba-tiba diam sambil menundukan kepala. Farid bingung dengan apa yang terjadi.
“kok semuanya diam?ada apa Yah?.” tanya farid yang kebingungan dan khawatir mungkin keluarganya terkena musibah, tapi ayahnya tidak menjawab pertanyaanya itu, Farid makin khawatir.
Lalu ia mendekati Harfi yang duduk di samping ayahnya dan bertanya.
“ada apa sebenarnya Har?jawab aku, jika kamu masih menganggap aku sebagai sahabat dan saudaramu?.”
“A...a..aku mau melamar Astrid menjadi istriku.”jawab Harfi pelan dan sambil tersenyum.
Kemudian seisi rumah tertawa melihat sikap Farid tadi. Di dalam rumah itu ada Ayah, ibu, kakak dan adiknya ,disitu juga ada paman dan bibinya Harfi. Ternyata mereka semua diam karena permintaan Harfi yang ingin membuat kujutan untuk Farid, Harfi meminta tolong sama Ayah Farid untuk melamar Astrid, karena Harfi sudah menganggap keluarga Farid juga merupakan kelurganya sendiri begitu juga sebaliknya.
Seketika seluruh tubuh Farid gemetar, jantungnya berhenti berdetak sesaat. Seolah singgasana cinta yang diberikan oleh pujaan hatinya tadi malam, diterjang derasnya gelombang yang menghancurkan singgasana cintanya itu dan seluruh taman bunga yang indah hancur dalam hitungan detik. Mimik mukanya menggambarkan seseorang yang kehilangan benda yang paling berharga dalam hidupnya. Semuanya terdiam melihat Farid seperti itu, tidak ada yang berani bicara semua mulut terkunci rapat dan semua mata tertuju kepada Farid. Sesaat suasana yang tadinya penuh dengan tawa melihat sikap Farid yang kebingungan tiba-tiba sunyi dan sepi. Akhirnya ayah Farid memberanikan diri angkat bicara.
“kamu kenapa nak?kok kayaknya ga’ senang melihat Harfi ingin melamar Astrid?.”tanya ayahnya.
Farid diam tidak menjawab, entah apa yang ada dalam pikirannya tidak seorang pun yang tahu.
“kamu tidak setuju Far jika aku melamarAstrid? atau kamu juga cinta ma Astrid?.”tanya Harfi bingung.
“ngapain aku ga’ setuju?tapi apa nggak terlalu cepat?.” Jawab Farid dengan memaksakan wajahnya untuk tersenyum.
“ya nggaklah Far, tadi ayah sudah bicara sama orangtuanya Astrid dan mereka setuju malam ini kita pergi melamar anaknya.” Jawab ayahnya.
“lagi pula Harfi sudah memiliki pekerjaan yang bagus toh...?, sebagai salah satu karyawan Bank Kal-Bar.” Sambung paman Harfi.
“bagus deh kalo’ gitu, jadi sahabatku ini ada yang ngurusnya, tapi apa Astrid sudah tahu tentang hal ini?.” Farid mencoba menipu dirinya sendiri dan semua keluarganya dengan mengaku bahwa iya setuju dengan rencana lamaran itu.
“belum, ayahnya yang melarang untuk tidak memberi tahu Astrid katanya biar menjadi kejutan buat Astrid.” Jawab ayahnya, karena ayahnyalah yang berbicara tadi siang dengan orangtua Astrid.
Suasana rumah kembali penuh dengan kebahagiaan tetapi tidak dengan suasana hati Farid yang terluka. Farid harus tetap tegar demi kebahagian Harfi dan keluarganya.
Semua sibuk mempersiapkan untuk acara nanti malam termasuk juga Farid, ayah Farid ditunjuk untuk menjadi juru bicara. Dan Farid sendiri diminta oleh Harfi untuk membuka acara tersebut.
***
Waktu terus berputar, detik berganti menjadi menit yang berkumpul menjadi putaran jam. Setiap perputaran waktu itu mengandung kebahagian yang tampak dari wajah Harfi yang tidak sabar mananti agar jam menunjukan pada pukul 8 malam, tapi lain halnya bagi Farid putaran waktu itu merupakan malaikat pencabut nyawa yang siap menghentikan hembusan nafas cintanya perlahan tapi pasti.
Pukul 19.30 wib
Semuanya sudah siap mau berangkat ke rumah Astrid apa lagi Harfi yang malam ini tampak tampan sekali dengan pakaian yang digunakannya. Sebenarnya Farid tidak mau ikut dalam acara ini karena kepalanya sakit sekali memikirkan perasaannya, tapi mau tidak mau dia harus pergi dan harus siap membuka acara tersebut sebagaimana yang dipinta oleh Harfi dari pada ia dicurigai tidak setuju dengan lamaran ini.
Pukul 20.00 wib
Acara sudah mau dimulai tapi Astrid tidak tampak diantara keluarganya yang hadir.
“ma’af pak Yusuf kok Astrid nggak kelihatan ya..?.” tanya pak Burhan, ayahnya Farid.
“tadi saya sengaja menyuruh dia membeli makanan, agar nanti waktu ia masuk ia kaget disini sudah ramai.” jawab Pak yusuf.
Pak Yusuf sengaja memberikan kejuatan kepada anaknya, dia mengira anaknya setuju dengan lamaran ini karena selama ini beliau melihat kedekatan antara Astrid dan Harfi itu adalah karena saling suka.
Acara pun dimulai sambil menunggu kedatangan Astrid. Farid berdiri membuka acara ini.
“Assalamualaikum wr.wb................ !!!!!!.”
“waalaikum..........”
Belum selesai seluruh yang hadir disitu menjawab salam Farid tiba-tiba Astrid masuk dan Astrid kaget, dalam hatinya bertanya-tanya “kok di rumah ramai orang?trus ngapain Farid dan keluarganya ada disini?.”
“waalaikumsalam wr.wb.......!!!!.”semuanya meneruskan.
Astrid masih berdiri didepan pintu rumahnya, dia bingung.
“ayo Astrid masuk sini!!.” suruh Pak Yusuf, ayahnya.
Astrid pun masuk, kemudian duduk di tengah antara ayah dan ibunya. Farid pun melanjutkan acara.
“untuk acara pertama, saya persilahkan pihak pria untuk mngutarakan kedatangannya kemari, yakni kepada Pak Burhan saya persilahkan.”
“baiklah saya tidak akan berpanjang lebar lagi karena semuanya sudah mengetahui jika kedatangan kami kesini bermaksud meminang anak Bapak untuk menjadi menantu kami dan menjadi istri anak kami yakni yang bernama Harfi bin Syarif, kami berharap pinangan kami ini di terima dengan senang oleh bapak dan keluarga.”
Astrid tersentak kaget tapi dia mencoba diam karena dia tidak mau memalukan keluarganya, mata Astrid memandang wajah Farid yang duduk di depannya begitu juga dengan Farid. Mereka saling memandang, kemudian gelombang getaran cinta masuk dari mata kerelung hati kedua insan yang terluka ini dan saling berbicara, seketika keduanya meneteskan air mata. Akhirnya mereka berdua mengetahui bahwa diantara mereka sebenarnya tersembunyi cinta yang suci. Tapi kejadian ini berlangsung cepat hingga tidak ada yang mengetahuinya kecuali mereka berdua. Begitulah cinta, kekuatannya besar hingga yang dapat meresakannya hanya kedua insan yang saling mencintai itu.
“sebelumnya saya mau mengucapkan terimakaish atas kehadiran Bapak berserta keluarga, baiklah masalah diterima tidaknya saya serahkan kepada anak saya karena dia yang menjalakan pernikahan nanti. Bagaimana anakku?.”
Astrid terdiam, kemudian ayahnya bertanya lagi “bagaimana anakku, engkau menerima atau tidak?.”
“saya minta waktu sampai besok untuk saya berfikir karena saya tida boleh salah dalam mengambil keputusan.” Astrid menundukan kepalanya karena matanya merah menahan tangisan hatinya.
“baiklah besok kami sekeluarga akan datang lagi kerumah bapak, mungkin sudah malam jadi kami permisi dulu ya pak Yusuf.” Kata ayah Farid.
Akhirnya Farid dan sekeluarga termasuk juga Harfi pulang. Harfi kecewa dengan keputusan Astrid untuk menjawab lamarannya besok malam, tetapi ia akan sabar menunggu hari esok. Sedangkan Farid tidak peduli dengan semuanya itu yang ia pikirkan adalah Astrid.
“aku yakin sekarang jika Astrid juga mencintai aku, tetesan air mata dan gerakan mulutnya itulah yang membuat aku yakin. Tapi apa yang harus aku lakukan?.” Katanya dalam hati.
***
Sesampainya dirumah, Farid langsung meminjam hp adiknya karena hpnya belum ia isi pulsanya. Sambil mengenggam hp adiknya itu ia memandang kamar Astrid dari kamarnya, ia juga melihat Astrid yang sedang mengarahkan pandangannya kearah kamarnya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengirim sms.
“ass. Astrid aq ykin skrng ap yg kt rskan sama.aq mncntaimu dn sbliknya tp cnt shbtku sngt pentng bgku aq tdk mau mlhtnya sdih.aq mohn jk km bnr-bnr mncntaiku trmlah Harfi sbgi suamimu dn cblh trima dia stulus cntmu pdku dn lpknlh aq.”
Beberapa menit kemudian setelah sms terkirim, hp Farid berbunyi.
“baiklah jk itu yg km mau, kelak jng prnh mnyalhkan drmu, diriku dn cnt kita.”
***
Seperti hari sebelumnya, pukul 19.30 wib semuanya sudah siap berangkat. Pukul 20.00 wib semuanya sudah berkumpul diruang tamu rumah Pak Yusuf. Acara tidak lagi seperti kemaren ada yang membuka acara tapi kali ini semuanya langsung menunggu jawaban Astrid.
“Baiklah, saya akan menerima Harfi menjadi suami saya, tapi dengan satu syarat.” kata Astrid dengan tegas tanpa keraguan walaupun itu bertentangan hati dan cintanya.
“apa itu As, saya siap memenuhi semua yang kamu pinta.” Harfi menjawab lantang dan bahagia.
“akad nikah harus malam ini juga.”
Suasana menjadi riuh, semua terkejut dengan syarat yang diberikan oleh Astrid.
“malam ini nak, apa ga’terlalu mendadak?.”ayah Astrid bertanya kepadanya.
“malam ini atau tidak sama sekali.” Astrid sambil memandang Farid dan menetesakan air mata.
“baiklah, saya akan cari penghulunya malam ini juga. Saya minta disini semuanya siapkan tempat akad nikahnya.” kata Farid.
Akhirnya dengan hati yang ikhlas ia mencarikan penghulu untuk pernikahan wanita yang ia cintai, tapi pernikahan itu bukan untuknya melainkan pernikahan wanita yang ia cintai dengan orang lain yakni sahabatnya sendiri.
Setelah kira-kira setangah jam ia kembali dengan seseorang yang menggunakan peci mungkin yang dibawanya itu adalah penghulu yang dicarikannya. Kemudian akad nikah pun berlangsung dengan lancar, matanya tidak berhenti meneteskan air mata, tetapi kekuatan cinta membuatnya tegar karena ia tahu kalau Astrid melakukan ini semua karena Astrid ingin membuktikan besar cintanya kepada dirinya.


cinta kekuatan terbesar yang ada disetiap makhluk ciptaan Allah

selesai

MANA KUNCINYA?

Oleh : a’is


“Hai Dan...!!kau ikut seminar juga ya...??”. tanya Harfi
“iya Har, kau ikut juga kan”. Jawab Hamdan sambil memegang tasnya yang penuh dengan buku.
“katanya seminar dicencel jam 8 malam nanti diPCC”.
“yang benar Har?waduh gimana ni?mana rumahku jauh lagi di kakap”.kata Hamdan menunjukan wajah kecewa karena seminar ditunda sampai jam 8 malam.
“iya, temanku ada yang jadi panitia tadi memberi tahuku. Tunggu aja sebentar lagi pasti ada pengumuman dari panitia”. Jawab Harfi tenang padahal ia kecewa sekali dengan kinerja panitia yang tidak konsisten dengan waktu.
Pagi itu seharusnya seminar sudah dimulai sejak jam 8 pagi dikampus, tapi kerena panitia mendapatkan informasi dari pemateri yang akan menyampaikan materinya diseminar itu juga ada undangan memberikan seminar yang temanya sama yakni “membangun jiwa muslim sejati di era globalisasi” di PCC jam 8 malam, agar panitia tidak repot mengurus seminar itu di kampus akhirnya panitia menyamakan jadwal di PCC.
Ketika seluruh peserta bingung, kenapa seminar belum juga dimulai? sedangkan sudah satu jam mereka menuggu. Tiba-tiba ada suara yang keluar dari sound sistem yang membuat para peserta diam mendengarkan.
“Perhatian kepada seluruh peserta seminar, kami atas nama panitia meminta maáf karena seminar yang seharusnya sudah dimulai dari tadi akan di pindahkan di PCC jam 8 malam, bagi peserta yang ingin mendaftar untuk seminar di PCC harap menghubungi panitia, pendaftaran terbatas”.
Suasana menjadi gaduh, peserta banyak yang kecewa. Seminar “membangun jiwa musilm sejati di era globalisasi” sudah ditunggu banyak mahasisiwa sejak pengumuman akan diadakannya seminar itu , sebulan yang lalu. Karena pemateri didatangkan dari Jakarta dan merupakan salah satu guru besar dari Universitas ternama di jakarta.
“yok Dan daftar!!peserta dibatas oleh panitia hanya 10 mahasisiwa”. Harfi mengajak Hamdan yang dari tadi masih menunjukan wajah kesalnya.
“aku jadi malas mau ikut, rumahku jauh, mana malam lagi acaranya”.
“ah...kau Dan baru gini aja, kalo mau nuntut ilmu jangan pernah nyerah Dan”. Harfi coba membujuk Hamdan.
“iya deh, yok kita daftar”.
Akhirnya mereka berdua pergi mendatangi panitia untuk mendaftarkan diri dengan segera, tapi sayang pendaftaran sudah ditutup karena sudah 10 mahasisiwa yang mendaftar.
“gimana ni Har??”. tanya Hamdan
“tenang aja kau, aku coba minta tolong dengan temanku yang menjadi panitia”.
Harfi mendatangi temanya itu, Alhamdulillah temannya bisa membantu mereka. Peserta ditambah 2 mahasiswa lagi. Semuanya diwajibkan datang dan harus menggunakan almamater kampus.
“Dan ntar malam kau jemput aku ya...!!, motorku lagi dibengkel”. Seru Harfi
“Ökey bos, aku jemput jam 7.30”
“kalo’gitu aku pulang dulu, Dan”.
“aku juga mau pulang nih, mau istirahat dulu”.
***
Malam ini tidak begitu bersahabat dengan mereka, langit yang biasanya indah dengan taburan tarian bintang, dihiasi cahaya rembulan yang membuat bumi tersenyum gembira, yang seolah-olah bintang, bulan dan bumi bersenda gurau dalam pangkuan langit sambil bertasbih memuji keindahan Ilahi tidak tampak malam ini.Langit meneteskan air mata. Tidak tahu kenapa?.
Bumi basah tersiram hujan walaupun hanya gerimis tapi membuat hati kedua insan yang haus dengan ilmu itu menjadi gelisah, bertanya-tanya dalam hati apakah hujan akan reda? Jam sudah menunjukan pukul 7.30 malam tapi Hamdan tidak tampak batang hidungnya. Harfi yang dari tadi sudah siap, duduk di teras rumahnya dengan menggunakan almamater tampak begitu cemas kalau ia tidak pergi maka ia akan merasa rugi sekali karena seminar ini begitu banyak ilmu yang akan dapat diambil di dalamnya.
Ia coba menghubungi Hamdan tapi hpnya tidak aktif. Hatinya semakin gelisah. 30 menit berlalu tapi Hamdan belum juga kelihatan. Ia lihat ujung gang rumahnya tiba-tiba dari kejauhan tampak lampu motor yang menuju kearahnya.
”alhamdulillah, akhirnya datang juga”.bisiknya dalam hati ternyata memang benar itu Hamdan.
“lama kali kau Dan??”.tanya Harfi
“sory, tadi motorku di pakai ayah”. Jawab Hamdan tenang.
“hp kau napa tidak aktif??”.Harfi masih penasaran
“ooo..hpku batrainya habis lupa dicas”.
“ya udahlah, yok berangkat dah telat ni!!”.
“aku numpang buang air kecil and besar dululah, udah kebelet ni”.kata Hamdan melihatkan wajah yang memang munujukan sudah tidak tahan lagi sambil mengambil kunci mtornya dan terus menggulung celana jeansnya sampai kelutut.
Mereaka lalu masuk kerumah, Harfi duduk dikursi teras menuggu Hamdan. Hamdan masuk kerumah dan melepaskan jaketnya lalu menuju WC. Beberapa menit kemudian Hamdan sudah selesai dari menabung emas-emasnya di bank yang tidak mungkin dirampok.
“udah Dan??,yok berangkat. Dah jam 8.20 ni”. Seru Harfi yang sudah tidak sabar mau pergi.
“yap...sekarang kita bisa berangkat dengan tenang, tapi kunci motorku mana ya..???”. tanya Hamdan yang sambil meraba-raba pakaian yang dipakainya.
“tadi kau letakan dimana??ada-ada aja kau ni”.tanya Harfi kesal
“kalo’ aku tahu, aku ngga’ tanya lagi, udah kita cari dulu”. Jawab Hamdan
Di bawah hujan gerimis itu. Harfi sibuk memeriksa jaket Hamdan mungkin kunci ada disitu tapi ia tidak menemukannya, sedangkan Hamdan mencari di halaman rumah tapi tidak juga ditemukan kuncinya. Orang-orang yang ada dirumah heran melihat mereka kemudian bertanya ada apa, Harfi menjelaskan semuanya. Semua yang ada dirumah kasihan melihat mereka dan membantu mencari kunci motor Hamdan. Jumlah yang mencari sekarang menjadi tujuh orang karena yang ada dirumah cuma lima orang.
Semua sibuk mencari tapi tidak juga dapat. Satu jam berlalu, akhirnya mereka semua menyerah dan naik keteras rumah.
“coba kau periksa lagi, pakaianmu itu Dan mungkin ada”.kata harfi
“udah dari tadi aku periksa, tinggal bugil aja belom”.jawab hamdan yang kesal , semuanya tertawa mendengar kata-kata hamdan.
“pasti letak kuncinya, tempatnya bagus banget ni Dan”.timpal Harfi yang juga kesal.
“itu pasti”.
“ya udah, coba buka kepala motornya hidupakan pake ’kabel dalamnya aja”. Suruh kakek Harfi.
Harfi masuk kerumah mengambil perlatan motor. Tidak lama kemudian Hamdan mencoba melaksanakan nasehat kakek dan hasilnya motor bisa dihidupkan tanpa kunci.
Mereka pun masih nekat pergi ke seminar itu walaupun dalam keadaan basah dan terlambat, menerjang angin dan hujan demi sebuah ilmu yang begitu mahal dan berharga.
***
Tidak jauh keluar dari gang, Hamdan merasa kedingiginan.
“kok dingin ya.. Har???”. Tanya Hamdan.
“nggak juga tu..., tu celanamu belum diturunkan kali”.
“oya...., pantasan aja dingin”.
Hamdan yang membawa motor sambil menundukan kepalanya dan menurunkan celananya, tiba-tiba ada yang jatuh.
“Apa tu Dan ??”.
Hamdan berhenti, melihat apa yang jatuh.
“ya..Allah, ni kunci motornya Har”. kata Hamdan yang kaget ternyata kunci motornya ada digulungan celananya.
“ha...ha...,bodoh kali kita Dan”. Harfi tertawa
“ya...udahlah, takdir. Yok naik motor ntar acarnya keburu selesai”.

Mereka pun terus menuju PCC, dalam perjalanan tidak henti-hentinya mereka tertawa memikirkan kebodohan mereka sendiri mencari kunci motor yang ternyata ada dalam gulungan celana jensnya Hamdan.
***
Sesampainya di PCC mereka heran melihat motor banyak yang keluar dari gedung yang megah nan indah itu.
“kok pada keluar dari PCC ya.. Dan???”. tanya Harfi yang penasaran.
“manaku tahu”.
“coba kau lihat jam, jam berapa sekarang??”. Perintah Harfi
“jam 10.15, ya...ampun Har acaranya sudah selesai”
“HA....ha....ha....”. Harfi tertawa lagi, Hamdan juga ikut tertawa.
Untuk kedua kalinya mereka menertawai kebodohan yang mereka lakukan.



selesai

MIMPI YANG HEBAT


Tahukah kau, kawan?.
Bahwa aku laki-laki tanpa mimpi, aku selalu tak menyadari bahwa aku hidup dalam tiga dimensi. Aku meremehkan mimpi, mimpi masa lalu, mimpi hari ini, dan mimpi masa depan nanti. Saat aku menyadari sangat berharganya mimpi, betapa aku ingin bermimpi setinggi langit. Tapi ku tak berani, kawan. Aku tak siap terhempas dari ketinggian itu. Betapa sakitnya kubayangkan!!!. Hancur berkeping-keping. Tulangku akan remuk bahkan mungkin aku tak akan menemukan bagian-bagian tubuhku yang berpatahan dan kemudian hilang entah kemana.
Saat ini hanya harapan yang membesarkan hatiku untuk memiliki mimpi. Sungguh sangat aneh kawan!, aku tak berani bermimpi, tapi aku berharap aku memiliki mimpi. Mimpi yang membuatku untuk berani bermimpi.
Dulu bagiku mimpi hanyalah angan-angan tanpa harapan. Hingga suatu saat, ada yang melihatkan padaku bahwa betapa pentingnya bermimpi dalam hidup ini karena mimpi itulah yang akan menarik kita dalam kehidupan riil, sehingga kita dapat merasakan buah dari mimpi itu, buah yang sangat lezat dari pohan mimpi yang indah bak sinar senja yang memancarkan pesona keindahan tersendiri dalam keagungan Tuhan.
Aku punya teman, kawan!
Temanku inilah, kawan. yang telah menyadarkanku. aku lihat ia memiliki mimpi. Mimpinya itu tak alang kepalang, sungguh sangat hebat. Tak seorang pun yang bisa menghentikannya untuk bermimpi. Baginya mimpi itu tak sekedar duduk, terus berkhayal dari pagi sampai malam, terus pagi lagi, malam lagi dan seterusnya setiap hari seperti itu.
Apa mimpinya, kawan?. Kalau kawan tahu, mimpinya itu, beeeh....!!, pasti kawan akan terkagum-kagum melihat temanku ini, dan mungkin pasti timbul dalam benak kawan “kok beraninya bermimpi seperti itu?”. Itulah temanku, kawan!! Sungguh manusia yang aneh dengan mimpi yang aneh pula. Mimpinya ini sudah lama ia miliki, ya..kira-kira dari kami masih duduk kelas 5 SD kalo’ tidak salah sih....!! Itu artinya benar kawan “dari kelas lima SD”. Mimpinya itu sudah ada dari kelas lima SD dan sekarang kami sudah sampai di bangku kuliah. Mimpinya itu tak sekali pudar. Sungguh orang yang hebat dengan mimpi yang hebat pula. Saat kelas lima sd itulah ia menceritakan mimpinya padaku. Ia menceritakan mimpinya dengan penuh keyakinan. Aku tatap matanya. Sungguh!! Ada bara semangat yang besar. Ada keyakinan yang berkobar dan berkata “mimpiku ini lah sobat, yang akan membawaku dalam kesuksesan sejati”. Semangatnya itu tertular padaku, aku semakin semangat mendengar cerita tentang mimipinya itu. Aku semakin serius mendengarkannya. Dalam hatiku, aku berteriak bangga pada temanku ini “MIMPI YANG HEBAT TEMAN!!!”.
Ingin rasanya menceritakan pada dunia tentang mimpinya yang hebat itu. Aku yakin dengan kau, kawan. kau juga pasti ingin tahukan tentang mimpinya itu?!. Sungguh aku sangat ingin menceritakannya. Tapi akhir dari ceritanya itu, kawan. ia bekata “sobat tolong kau jangan ceritakan ini pada siapa pun!!. Jadi Ma’afkan, aku kawan!! aku tak ingin menghianati temanku ini.

BERMIMPILAH, KAWAN!!
KARENA TUHAN AKAN MEMELUK MIMPI-MIMPI KITA
DAN MENGABULKANYA

sebuah mimpi akan mengantarkan kita pada kesuksesan sejati

sungai kapus

aku bangga jadi guru

KEPALAKU pusing, entah apa yang kupikiran?, tapi yangku tahu aku bingung dengan hidup ini, aku bingung dengan negeri ini. Tiba-tiba bayangan wajah anakku muncul, wajahnya yang mirip sekali dengan ibunya yang sudah lama pergi dan tak akan pernah kembali membuat rinduku membuncah didalam sanubariku yang paling dalam.“Oh anakku kapan kau pulang? ayah rindu padamu”.

Waktu terus berputar, tetap saja mataku tidak mau tertutup, aku sangat lelah hari ini. Umurku yang telah berkepala 5 membuat tulang-tulangku sudah tidak sanggup lagi untuk kerja keras, entah bagaimana aku membiayai anakku lagi untuk kuliah, semua harta bendaku sudah habisku jual dan gajiku sebagai guru tidak akan cukup.

Sudah jam 4 subuh rupanya, perlahan kepalaku mulai baikkan tapi rasa ngantuk tetap higgap di mataku mungkin karena semalaman penuh aku tidak dapat tidur, ingin rasanya 5 menit saja untuk memejamkan mata ini tapi tetap saja tidak bisa. Dari gubuk sederhana yang dulu penuh cinta dan kebahagian, tapi sayang sekali semua itu sekarang sudah jadi kenangan belaka, istriku sudah meninggal dan anakku pergi menuntut ilmu yang kelak dialah menggantikanku mengajar disini karena itulah cita-citanya, dia ingin menjadi Omar Bakri sejati katanya. Dari gubuk itu aku mendengar Asma Allah menggema di subuh hari, sahut menyahut dari satu masjid ke masjid yang lain.Membangunkan setiap insan yang beriman dari kenikmatan tidur yang malam ini tidak aku dapatkan. Kulaksanakan panggilannya. Kusujud dengan penuh kekhusyukan. Setelah sholat subuh, aku lihat sang surya mengintip malu dari ufuk timur yang mulai menampakkan dirinya yang kemudian menghiasi warna langit, membuat hati setiap insan yang beriman tiada berhenti bertasbih memuji Rabb semesta alam yang telah menciptakan moment yang terindah di subuh hari. Embun pagi juga ikut menghiasi bumi tercinta, menyejukan qolbu insan-insan yang bertasbih memuji Allah yang menambah keimanan mereka.

Sekarang kepalaku sudah sembuh, lelahku, ngantukku, juga tidak ada lagi. Sekarang yang ada hanya rasa bahagia, entah kenapa? Sejak 30 tahun yang lalu, sejak aku mulai menjadi guru. Setiap mau pergi mengajar pasti yangku rasakan hanya kebahagian dan penuh semangat mungkin itu yang membuat sakit kepalaku, lelahku dan ngantuku seketika hilang. Setelah siap untuk pergi mengajar aku ambil sepeda butut kesayanganku yang selama ini telah setia menemaniku dan merelakankan punggungnya untukku naiki. Aku kayuh sepedaku dengan kaki rentaku ini, kulihat semua masyarakat disini juga mulai sibuk dengan kerjaan mereka. Setiapku berpapasan dengan masyarakat aku selalu menerima senyuman yang tulus dari hati mereka, inilah salah satu alasanku tetap bertahan didaerah pedalaman ini. Aku cinta dengan desa ini, aku cinta dengan keramahan masyarakat disini yang mungkin tidak akan kudapatkan dikota.

***

Saat aku sampai di pintu gerbang sekolah, aku juga disambut dengan senyuman oleh calon-calon penerus bangsa yang lagi asik bermain. Aku parkirkan sepedaku diparkiran, tak lama setelah aku masuk ke ruangan kantor yang ada hanya Pak Sulaiman dan Ibu Nurain, memang hanya mereka yang ada dikantor sekolah reot ini karena guru yang ada hanya kami bertiga, mereka berdua tersenyum melihatku, tiba-tiba lonceng berbunyi yang bertanda jam pelajaran sudah mulai. Dengan rasa bahagia dan ikhlas kulangkahkan kakiku menuju kelas yang penuh anak-anak yang haus dengan ilmu.

“Assalamualaikum...........!!”.

“waalaikumsalam...Pak!!.”jawab anak-anak muridku dengan suara yang nyaring

selamat pagi anak-anak!!!”.

“pagi pak”.anak-anak itu menjawab kempok dengan suara yang lebih nyaring lagi

Melihat antusias anak-anak itu semangatku terus bertambah untuk mengajar. Hari ini jadwal aku mengajar pelajaran agama Islam. Dan hari ini aku menyampaikan tentang Nabi Muhammad Saw dan yang inginku sampaikan tentang kepemimpinan Beliau karena aku ingin kelak anak-anak calon penerus bangsa yang ada didepanku ini dapan menjadikan Nabi Muhammad sebagai suritauladan mereka dalam memimpin baik memimpin diri sendiri maupun memimpin negeri tercinta ini. Karena setiap manusia adalah pemimpin dan pemimpin harus bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukannya.

Saat aku menjelaskan tentang kepemimpinan Rasulullah, tiba-tiba ada anak yang berteriak mengangkat tangannya. Anak ini bernama Harfi, ia memang juara umum disekolahan ini dan aku kagum kekritisannya dalam berfikir dibandingkan teman-temannya yang lain.

“ma’af Pak, boleh saya bertanya?”.kata Harfi

“iya Harfi”.jawabku

“begini Pak, kalau Nabi Muhammad bener pemimpin yang baik dan beliau adalah Nabi kita sebagai umat muslim, sebagai contah kita dalam bertindak, mengapa banyak orang-orang pintar yang beragama islam yang menjadi pemimpin kita banyak yang korupsi dan menipu rakyat Pak????”. Tanyanya dengan muka yang serius

Aku tersentak kaget mendengar pertannyaan anak kecil ini, diam-diam bibirku mengucapakan kalimat “Subhanallah” aku benar-benar kagum dengan anak yang berkulit hitam ini, mungkin anak sekecil dia juga sudah mulai bosan dengan tingkah laku pemimpin zaman sekarang yang notabennya islam tapi sering menipu rakyat. Mungkin inilah juga yang membuatku tadi malam bingung tentang negeri ini.

“Nabi Muhammad adalah sesok pemimpin yang sempurna, kita harus menjadikannya panutan kita dalam bertindak, pemimpin kita bukannya tidak tahu tentang hal ini tapi mereka tidak mau tahu karena mereka lebih mementingkan kehidupan dunia sehingga rela melakukan apa aja demi kekayaan padahal harta tidak dibawa mati”.jawabku

Aku berharap mereka belum puas dengan jawabanku agar mereka belajar untuk berfikir tentang kepemimpinan karena mereka-mereka inilah yang kelak akan menjadi calon pemimpin di negeri tercinta ini. Dan ternyata mereka benar-benar belum puas dengan jawabanku, Harfi menanya kembali dan anak-anak yang lain juga terus mengajukan pertanyaan. Aku bersyukur bisa menjadi guru, karena kelak calon-calon insyur, ilmuan, bahkan Presiden akan mencul dari tanganku dan dari tangan berjuta guru di Indonesia yang nasibnya tidak terlalu dipedulikan oleh pemerintah.

Tidak terasa sudah dua jam berlalu, jam mengajar sudah selesai kemudian aku pamitan kepada anak-anak. Aku harus pulang cepat hari ini untuk mengambil gajiku di kota karena kalau kesiangan aku tidak bisa pergi ke kota hari ini. Dari kelas aku langsung menuju ke kantor untuk mengambil tasku, di kantor hanya ada Pak Sulaiman.

“Pak Sulaiman, saya pulang dulu ya, harus mengambil gaji hari ini. Bapak kapan ngambil gajinya?”.

“iya Pak Zai, mungkin besok”.jawabnya,

Pak Sulaiman memanggilku Zai karena namaku Zaidadi. Dari sekolahan aku langsung pulang kerumah kemudian langsung pergi ke kota, karena jarak dari desa ke kota terlalu jauh aku tidak naik sepeda aku harus naik ojek.

****

Warna langit mulai memerah, sang surya berada diujung barat bumi. Aku baru sampai dari kota, lelah mulai menguasai tubuh tuaku ini. Aku istirahatkan tubuhku di kursi yang ada di teras rumahku. Aku letakan gajiku di meja, yang kulihat hanya ada uang sebesar Rp.500.000, hanya tinggal segitulah gajiku sekarang. Aku pun teringat dengan surat Risa anakku yang minta dikirimkan uang RP.1.000.000 untuk daftar ulang kuliahnya.

Tidak ada yang dapat dijual lagi, dengan tubuh tuaku aku harus benar-benar banting tulang lagi untuk membiayai kuliah Risa dan hidupku sehari-hari. Kerja apapun akan aku lakukan yang penting halal karena bagiku lebih baik mati kelaparan dari pada makan uang haram itulah perinsipku dan aku harus mencontohkan kepada murid-muridku bahwa hidup itu harus berusaha dan berusahanya tidak boleh melanggar ajaran-ajaran sang Ilahi.

Tiba-tiba terbisit dalam hatiku “mengapa gaji guru kecil??padahal insyur, anggota-anggota dewan bahkan presiden sekalian bisa baca tulis dan menjadi pintar itu karena guru”. Aku langsung istirgfar, entah kenapa pikiran itu muncul dalam benakku. Aku langsung membuang pikiran itu jauh-jauh karena aku takut keikhlasanku selama ini mendidik,mengajar dan sebagai guru hilang sia-sia. Walaupun begitu aku tetap bangga jadi guru.

selesai

mari berbagi!!

mari!
berbagi sejarah
berbagi cerita
berbagi pengalaman

untuk kemajuan bersama