skip to main |
skip to sidebar
RSS Feeds
coretan kata-kata terjelek dari penulis terbodoh
coretan kata-kata terjelek dari penulis terbodoh
20.41
Diposting oleh Haris Firmansyah
"Pontianak post"
Selasa, 10 Maret 2009 , 08:00:00
Siswa Mulai Tidak Peduli Sejarah Bangsa
MUNGKIN sejarah dianggap suatu hal yang sangat membosankan. Bahkan tidak menarik bagi sebagian siswa. Sehingga meraka tidak terlalu peduli dengan hal-hal yang berbau sejarah. Ketidakpedulian ini jika kita amati merupakan salah satu penyebab hancurnya moral generasi muda bangsa kita yang tercinta ini. Dan ini akan menimbulkan efek yang sangat berbahaya yakni “Indonesia akan kehilangan jati diri bangsanya” karena generasi mudanya tidak peduli akan masa lalu bangsanya sendiri. Sudah dapat kita bayangkan bagaimana keadaan Indonesia kedepannya jika fenomena ini masih dianggap sepele dan diremehkan.
Pada dasarnya, sejarah bukan hanya berbicara tentang masa lalu. Tapi sejarah memiliki peranan penting yang dapat membentuk kepribadian siswa yang biasa menjadi luar biasa. Selain itu, Haris Zaky Mubarak dalam artikelnya yang berjudul “Pengembangan Muatan Lokal dalam Pembelajaran Sejarah” menyatakan “pentingnya pemahaman pengertian sejarah untuk kehidupan sehari-hari menjadikan siswa mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dimasyarakat. Sejarah dapat diibaratkan pendidik, karena dapat mendidik jiwa manusia lewat hasil yang dicapainya (Trevelyan, 1957:228). Pembelajaran sejarah bukan hanya untuk menanamkan pemahaman masa lampau hingga masa kini, tapi juga untuk menumbuh kembangkan rasa kebanggaan dan citra tanah air. Bangga sebagai bangsa Indonesia merupakan pengalaman berarti untuk menumbuh kembangkan rasa kebanggaan dan kecintaan pada manusia secara universal”.
Sejarah juga dapat dijadikan pondasi untuk berpikir bijak. Sehingga siswa sebagai generasi penerus bangsa dimana ditangannyalah kelak akan berada kelangsungan hidup bangsa tercinta ini, dapat dan bisa berpikir bijaksana dan menjadikan sejarah sebagai cerminan masa lalu untuk membawa kehidupan bangsa Indonesia dimasa depan, baik dari aspek sosial, budaya, politik, agama maupun ekonomi kearah yang jauh lebih baik lagi. Sekarang bukan saatnya untuk menimbulkan pertanyaan “siapa yang salah?” karena ini merupakan kebiasaan yang jelek dari bangsa tercinta ini yang mengaku dirinya bangsa yang bemartaban tinggi. Tapi, mari kita mencari solusi bersama dalam mengatasi fenomena ini. Yang pastinya ini merupakan tantangan kita bersama untuk memajukan Indonesia dan agar Indonesia tidak kehilangan jati diri bangsanya. Apalagi guru dan calon pendidik akan jauh lebih mendapatan tantangan yang besar untuk mengkemas pembelajaran sejarah agar menarik dan tidak membosankan agar nilai-nilai bangsa dapat tertanam dalam diri setiap individu siswa.
“JAS MERAH ; Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. (tajuk pidato Ir. Soekarno)
* Penulis Haris Firmansyah
Mahasiswa Prodi Sejarah STKIP-PGRI
20.39
Diposting oleh Haris Firmansyah
KEMAJUAN suatu negara terletak pada kualitas manusia didalamnya, apabila SDMnya jelek? Maka negara tersebut akan sulit berkembang bahkan akan selalu ditindas oleh negara asing. Dari dulu dan sampai sekarang selalu timbul suatu pertanyaan sederhana yang mungkin menarik untuk dibahas, yakni “ Mengapa Indonesia tidak maju-maju?”. Sekarang sudah jelas jawabannya “SDM Indonesia amatlah jelek”. Sudah berbagai cara dilalui pemerintah untuk memperbaikai SDM dari kesehatan, ekonomi, budaya, sampai hal yang sangat vital yang dapat membentuk pola dasar karakter dan pemikiran masyarakat yakni Pendidikan. Anehnya usaha pemerintah itu menimbulkan tanggapan yang jelek di mata masyarakat karena terkesan hanya menghambur-hamburkan kas negara dan bukti nyata dari usaha pemerintah tersebut masih sangat kusam dan tidak jelas, semua itu dikarenakan ketidakseriusan pemerintah dalam menenganinya. Pemerintah sangat hebat dalam menyusun suatu program untuk memperbaiki SDM tapi dibalik itu semua sebagian dari mereka hanya mencari keuntungan pribadi dalam menjalankan programnya.
Tapi kita tidak bisa terus-terusan menyalahkan pemerintah, suatu program untuk memperbaiki SDM walaupun sudah dirancang sedemikian bagusnya dan bahkan dijamin akan bisa sukses besar, jika kita sebagai masyarakat yang menjadi objek dari program itu tidak memberikan respon yang baik maka semuanya akan sia-sia. Kinilah saatnya pemerintah dan masyrakat bekerjasama dalam membentuk SDM Indonesia yang bagus untuk mencapai Indonesia suskses dan maju !. Sudah berabad-abad Negara ini terjajah oleh bangsa asing, apakah sekarang kita masih mau dijajah lagi dengan kebodohan?.
Alangkah bodohnya kita jika tidak belajar dari sejarah, karena bangsa ini terbentuk melalui sejarah. Presiden pertama kita Bung Karno pernah berpidato dengan judul “Jasmerah” (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah). Sekarang saatnya kita harus melihat dan mempelajarinya demi kemajuan bersama, tidak dapat dipungkiri lagi Indonesia bisa memperoleh kemerdekaan karena pendidikan. Misalnya terbentuknya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 yang menandai pergeseran pola gerakan anti klonialisme dari gerakan bersenjata menuju perjuangan melalui organisasi, Soempah Pemoeda tanggal 28 Oktober 1928, itu merupakan tonggak sejarah yang menandai kesadaran untuk bersatu dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Di dalam buku 100 tokoh yang mengubah Indonesia diabad 20, disusun oleh Floriberta Aning S memuat tokoh-tokoh yang semasa hidupnya tidak terlepas dari pendidikan. Misalnya Soekarno (mantan Presiden pertama RI), KI Hadjar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional), H.O.S Tjokroaminoto (tokoh Pergerakan Nasional) dan masih banyak lagi yang lainnya.
Bahkan sejarah pernah menggambarkan bahwa betapa pentingnya pendidikan. Lihat saja Jepang yang pada perang dunia kedua tahun 1945 adalah negara yang paling hancur akibat bom atom di Hirosima (6/8/1945) dan Nagasaki (9/8/1945). Semuanya hancur tiada bersisa. Tapi pada saat itu begitu bijaksananya Kaisar Jepang, pertanyaan pertama yang muncul dari pimpinan tertinggi tersebut “masih berapa jumlah guru yang tersisa di negeri ini?”. Kemudian beliau menerangkan alasannya mengapa bertanya seperti itu “jika negeri ini masih ada guru, kita akan segera bangkit dari kekalahan. Dari gurulah akan lahir seorang Insiyur, dokter dan tenaga terampil lainnya guna membangun negeri ini” . betapa berharganya nilai guru dan pendidikan di mata Kaisar Jepang. Ternyata ucapan Kaisar Jepang memang sungguh luar biasa, Jepang yang dulu menangis sekarang tersenyum lebar menjadi negara terkuat dalam teknologi dan merupakan negara raksasa yang menguasai perdagangan dunia, bagaimana dengan negara kita? rasanya terbalik 360 derajat, kita belum mampu tersenyum lebar melihat nasib pendidikan dan perkembangan bangsa saat ini.
Ini adalah merupakan pelajaran berharga sekaligus cambuk bagi kita untuk tidak terlalu pulas tertidur dan bermalas-malasan kita tertinggal karena bangsa kita adalah pemalas dan tidak disiplin. Kini saatnya bangkit menyongsong kemajuan bangsa lewat pendidikan, karena sesungguhnya pendidikan merupakan pondasi awal dalam membangun SDM demi menciptakan bangsa yang kuat.
*Haris firmansyah, Kabid Infokom Primakapon & Mahasiswa prodi sejarah STKIP-PGRI PTK
20.27
Diposting oleh Haris Firmansyah
1.Pendahuluan
Sejarah merupakan cerminan masa kini dan masa yang akan datang, ia mengajarkan pada kita untuk selalu berpikir bijak dalam menghadapi kehidupan ini. Jadi, apa pun yang terjadi pada masa lalu di bangsa kita ia adalah serpihan dari puing-puing sejarah, yang memiliki pangaruh besar terhadap masa kini dan masa yang akan dating pada negri Indonesia yang tercinta ini.
Dan serpihan sejarah tersebut merupakan ukiran-ukiran tangan dari pemimpin-pemimpin negri ini dan para pejuang masa lalu. Dan dalam pengantar di buku “100 Tokoh yang Mengubah Indonesia” yang disusun oleh Floribeta Aning S.mengatakan :
“ada yang mengatakan bahwa sejarah merupakan riwayat hidup orang-orang besar. Tidak selalu demikian, memang, akan tetapi sulit diingkari bahwa riwayat orang-orang besar itu sendiri merupakan sebagian (mungkin terbesar) dari gran narrative sejarah”.
Maka dari pada itu seharusnyalah kita tetap mengenang dan mempelajari tentang kehidupan pribadi para pengukir sejarah Indonesia. Salah satu dari sekian banyak tokoh adalah “Mohammad Hatta”, beliau adalah sosok proklamator dan wakil presiden pertama RI yang bertolak belakang dengan Soekarnoyang lebih ekspresif dan meledak-ledak. Mohammad Hatta berpenampilan kalem, tenang dan bijak. menurut Deliar Noer : “Hatta adalah seorang pemimpin yang langka, yang senantiasa memperlihatkan moral tinggi dalam bergerak. Ia dikenal sebagai pemimpin yang bersih dan tak pernah berupaya memperkaya diri dan keluarga. Ia juga bersih dalam menilai kekuasaan yang sebenarnya dapat ia permainkan. Daslam hubungannya dengan perumpuan ia selalu menghargai mereka sembari tetap menjaga jarak berdasarkan akhlak yang dituntut dari seorang muslim yang saleh. Akibatnya ia kerap dianggap kaku dalam berhubungan. Duli dan kini, ia adalah suri teladan”.
Beliau memiliki segudang prestasi yang patut kita banggakan. Di RI beliau memiliki peranan penting, prestasi dan jabatan beliau di negeri ini, antara lain:
a. Wakil Presiden Indonesia ke-1, Masa jabatan 1945 – 1956
b. Perdana Menteri Indonesia ke-3, Masa jabatan 29 Januari 1948 – 16 Januari 1950
c. Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Masa jabatan 1949 – 1950
2.Biografi singkat Mohammad Hatta
Lahir :12 Agustus 1902, Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia
Meninggal :14 Maret 1980 (umur 77), Jakarta, Indonesia
Partai politik : Non Partai
Istri : Rahmi Rachim
Anak : Meutia Hatta, Gemala Hatta, Halida Hatta
Agama : Islam
Dr.(H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta (populer sebagai Bung Hatta, lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 12 Agustus 1902 – wafat di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah pejuang, negarawan, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Bandar udara internasional Jakarta menggunakan namanya sebagai penghormatan terhadap jasanya sebagai salah seorang proklamator kemerdekaan Indonesia.
Nama yang diberikan oleh orang tuanya ketika dilahirkan adalah Muhammad Athar. Anak perempuannya bernama Meutia Hatta menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta.
a.Latar belakang dan pendidikan
Hatta lahir dari keluarga ulama Minangkabau, Sumatera Barat. Ia menempuh pendidikan dasar di Sekolah Melayu, Bukit tinggi, dan pada tahun 1913-1916 melanjutkan studinya ke Europeesche Lagere School (ELS) di Padang. Saat usia 13 tahun, sebenarnya ia telah lulus ujian masuk ke HBS (setingkat SMA) di Batavia (kini Jakarta), namun ibunya menginginkan Hatta agar tetap di Padang dahulu, mengingat usianya yang masih muda. Akhirnya Bung Hatta melanjutkan studi ke MULO di Padang. Baru pada tahun 1919 ia pergi ke Batavia untuk studi di Sekolah Tinggi Dagang "Prins Hendrik School". Ia menyelesaikan studinya dengan hasil sangat baik, dan pada tahun 1921, Bung Hatta pergi ke Rotterdam, Belanda untuk belajar ilmu perdagangan/bisnis di Nederland Handelshogeschool (bahasa inggris: Rotterdam School of Commerce, kini menjadi Universitas Erasmus). Di Belanda, ia kemudian tinggal selama 11 tahun.
Pada tangal 27 November 1956, Bung Hatta memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Hukum dari Universitas Gadjah Mada di Yoyakarta. Pidato pengukuhannya berjudul "Lampau dan Datang".
Di Batavia, ia juga aktif di Jong Sumatranen Bond Pusat sebagai Bendahara. Ketika di Belanda ia bergabung dalam Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging). Saat itu, telah berkembang iklim pergerakan di Indische Vereeniging. Sebelumnya, Indische Vereeniging yang berdiri pada 1908 tak lebih dari ajang pertemuan pelajar asal tanah air. Atmosfer pergerakan mulai mewarnai Indische Vereeniging semenjak tibanya tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Ernest Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) di Belanda pada 1913 sebagai orang buangan akibat tulisan-tulisan tajam anti-pemerintah mereka di media massa.
b.Perjuangan
Saat berusia 15 tahun, Hatta merintis karir sebagai aktivis organisasi, sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond (JSB) Cabang Padang. Di kota ini Hatta mulai menimbun pengetahuan perihal perkembangan masyarakat dan politik, salah satunya lewat membaca berbagai koran, bukan saja koran terbitan Padang tetapi juga Batavia. Lewat itulah Hatta mengenal pemikiran Tjokroaminoto dalam surat kabar Utusan Hindia, dan Agus Salim dalam Neratja.
Kesadaran politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idola Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis. “Aku kagum melihat cara Abdul Moeis berpidato, aku asyik mendengarkan suaranya yang merdu setengah parau, terpesona oleh ayun katanya. Sampai saat itu aku belum pernah mendengarkan pidato yang begitu hebat menarik perhatian dan membakar semangat,” aku Hatta dalam Memoir-nya. Itulah Abdul Moeis: pengarang roman Salah Asuhan; aktivis partai Sarekat Islam; anggota Volksraad; dan pegiat dalam majalah Hindia Sarekat, koran Kaoem Moeda, Neratja, Hindia Baroe, serta Utusan Melayu dan Peroebahan.
Pada usia 17 tahun, Hatta lulus dari sekolah tingkat menengah (MULO). Lantas ia bertolak ke Batavia untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School. Di sini, Hatta mulai aktif menulis. Karangannya dimuat dalam majalah Jong Sumatera, “Namaku Hindania!” begitulah judulnya. Berkisah perihal janda cantik dan kaya yang terbujuk kawin lagi. Setelah ditinggal mati suaminya, Brahmana dari Hindustan, datanglah musafir dari Barat bernama Wolandia, yang kemudian meminangnya. “Tapi Wolandia terlalu miskin sehingga lebih mencintai hartaku daripada diriku dan menyia-nyiakan anak-anakku,” rutuk Hatta lewat Hindania.
Pemuda Hatta makin tajam pemikirannya karena diasah dengan beragam bacaan, pengalaman sebagai Bendahara JSB Pusat, perbincangan dengan tokoh-tokoh pergerakan asal Minangkabau yang mukim di Batavia, serta diskusi dengan temannya sesama anggota JSB: Bahder Djohan. Saban Sabtu, ia dan Bahder Djohan punya kebiasaan keliling kota. Selama berkeliling kota, mereka bertukar pikiran tentang berbagai hal mengenai tanah air. Pokok soal yang kerap pula mereka perbincangkan ialah perihal memajukan bahasa Melayu. Untuk itu, menurut Bahder Djohan perlu diadakan suatu majalah. Majalah dalam rencana Bahder Djohan itupun sudah ia beri nama Malaya. Antara mereka berdua sempat ada pembagian pekerjaan. Bahder Djohan akan mengutamakan perhatiannya pada persiapan redaksi majalah, sedangkan Hatta pada soal organisasi dan pembiayaan penerbitan. Namun, “Karena berbagai hal cita-cita kami itu tak dapat diteruskan,” kenang Hatta lagi dalam Memoir-nya.
Selama menjabat Bendahara JSB Pusat, Hatta menjalin kerjasama dengan percetakan surat kabar Neratja. Hubungan itu terus berlanjut meski Hatta berada di Rotterdam, ia dipercaya sebagai koresponden. Suatu ketika pada medio tahun 1922, terjadi peristiwa yang mengemparkan Eropa, Turki yang dipandang sebagai kerajaan yang sedang runtuh (the sick man of Europe) memukul mundur tentara Yunani yang dijagokan oleh Inggris. Rentetan peristiwa itu Hatta pantau lalu ia tulis menjadi serial tulisan untuk Neratja di Batavia. Serial tulisan Hatta itu menyedot perhatian khalayak pembaca, bahkan banyak surat kabar di tanah air yang mengutip tulisan-tulisan Hatta.
Perangko Satu Abad Bung Hatta diterbitkan oleh PT Pos Indonesia tahun 2002Hatta mulai menetap di Belanda semenjak September 1921. Ia segera bergabung dalam Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging). Saat itu, telah tersedia iklim pergerakan di Indische Vereeniging. Sebelumnya, Indische Vereeniging yang berdiri pada 1908 tak lebih dari ajang pertemuan pelajar asal tanah air. Atmosfer pergerakan mulai mewarnai Indische Vereeniging semenjak tibanya tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) di Belanda pada 1913 sebagai eksterniran akibat kritik mereka lewat tulisan di koran De Expres. Kondisi itu tercipta, tak lepas karena Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara) menginisiasi penerbitan majalah Hindia Poetra oleh Indische Vereeniging mulai 1916. Hindia Poetra bersemboyan “Ma’moerlah Tanah Hindia! Kekallah Anak-Rakjatnya!” berisi informasi bagi para pelajar asal tanah air perihal kondisi di Nusantara, tak ketinggalan pula tersisip kritik terhadap sikap kolonial Belanda.
Di Indische Vereeniging, pergerakan putra Minangkabau ini tak lagi tersekat oleh ikatan kedaerahan. Sebab Indische Vereeniging berisi aktivis dari beragam latar belakang asal daerah. Lagipula, nama Indische –meski masih bermasalah– sudah mencerminkan kesatuan wilayah, yakni gugusan kepulauan di Nusantara yang secara politis diikat oleh sistem kolonialisme belanda. Dari sanalah mereka semua berasal.
Hatta mengawali karir pergerakannya di Indische Vereeniging pada 1922, lagi-lagi, sebagai Bendahara. Penunjukkan itu berlangsung pada 19 Februari 1922, ketika terjadi pergantian pengurus Indische Vereeniging. Ketua lama dr. Soetomo diganti oleh Hermen Kartawisastra. Momentum suksesi kala itu punya arti penting bagi mereka di masa mendatang, sebab ketika itulah mereka memutuskan untuk mengganti nama Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging dan kelanjutannya mengganti nama Nederland Indie menjadi Indonesia. Sebuah pilihan nama bangsa yang sarat bermuatan politik. Dalam forum itu pula, salah seorang anggota Indonesische Vereeniging mengatakan bahwa dari sekarang kita mulai membangun Indonesia dan meniadakan Hindia atau Nederland Indie.
Pada tahun 1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di Belanda, dan di sinilah ia bersahabat dengan nasionalis India, Jawaharlal Nehru. Aktivitasnya dalam organisasi ini menyebabkan Hatta ditangkap pemerintah Belanda. Hatta akhirnya dibebaskan, setelah melakukan pidato pembelaannya yang terkenal: Indonesia Free.
Pada tahun 1932 Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia melalui proses pelatihan-pelatihan. Belanda kembali menangkap Hatta, bersama Soetan Sjahrir, ketua Club Pendidikan Nasional Indonesia pada bulan Februari 1934. Hatta diasingkan ke Digul dan kemudian ke Banda selama 6 tahun.
Pada tahun 1945, Hatta secara aklamasi diangkat sebagai wakil presiden pertama RI, bersama Bung Karno yang menjadi presiden RI sehari setelah ia dan bung karno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Oleh karena peran tersebut maka keduanya disebut Bapak Proklamator Indonesia.
c.Kehidupan pribadi
Hatta menikah dengan Rahmi Rachim pada tanggal 18 Nopember 1945 di Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Mereka mempunyai tiga orang putri, yaitu Meutia Farida, Gemala Rabi'ah, dan Halida Nuriah. Dua orang putrinya yang tertua telah menikah. Yang pertama dengan Dr. Sri-Edi Swasono dan yang kedua dengan Drs. Mohammad Chalil Baridjambek. Hatta sempat menyaksikan kelahiran dua cucunya, yaitu Sri Juwita Hanum Swasono dan Mohamad Athar Baridjambek.
d.Perpustakaan
Perpustakaan Bung Hatta memiliki lebih dari 8.000 buku, terdiri dari Sejarah, Budaya, Politik, Bahasa dan lain-lain. Hal inilah yang turut menyumbang kemampuan Beliau dalam berdiplomasi utnuk memperjuangkan Kemerdekaan Republik Indonesia.
08.29
Diposting oleh Haris Firmansyah
Kau katakan cinta padaku
Saat aku tak mengetahuinya
Kau ajari aku bercinta
Saat aku amat bodoh
Kau bikin aku jatuh cinta
Saat aku tidak menginginkannya
***
Saat aku mengerti semuanya
Saat aku tahu bercinta
Saat aku mencintaimu
Kau khianati cintaku
Kau tinggalkan aku
Kau tak perdulikan aku lagi
***
Cinta…sekarang
Mendengar suaramu pun aku tak sanggup
Apa lagi melihatmu
Hati ini terasa tersayat habis
Oleh pisau yang paling tajam
Yang kau lakukan kepadaku
Anehnya hati ini tetap mencintaimu
Makinku coba melupakan dan membencimu
Makin sebesar itu pula cinta ini bersemayam dalam hatiku
***
Cinta…. pergilah dari hatiku
Jangan kau bikin
Aku seperti burung yang mencoba terbang
Dengan satu sayap
Yang tidak akan pernah bisa dia lakukan
Yang hanya bikin dia merasa sedih
Karena tidak akan merasakan indahnya angkasa
***
Cinta….pergilah dan pergilah
Kau dariku sejuah mungkin
yang dapat kau lakukan
04.54
Diposting oleh Haris Firmansyah

Malam telah larut dalam kesunyian dan kegelapan, tapi rasa yang kurasakan tetap berada jauh didalam lubuk hatiku, ia telah tertanam dan tumbuh subur dalam jiwaku. Andaikan rasa ini tidak pernah datang, mungkin aku…… mungkin aku akan tetap berada dalam sebuah penantian yang indah, karena menanti rasa yang mengukir tentang cinta untuk menghiasi hatiku, cinta yang bak sinar senja yang memancarkan cahaya keindahan dalam fatamorgana keagungan Tuhan.
Namun, Rasa yang telah lama kurindukan akhirnya telah datang, rasa itu membawa kabar tentang cinta. Tapi, kawan! Entahlah, aku bingung memikirkan tentang rasa ini, rasa ini telah mendatangkan dua rasa yang berbeda tapi satu.
Bukannya aku tak bahagia ketika rasa ini datang, tapi rasa ini mengharuskanku untuk memilih, Aku tak mau melanggar prinsipku dalam memaknai cinta, bagiku cinta adalah SATU, satu tentang rasa kesetiaan, satu tentang rasa kepercayaan dan satu bukanlah dua, dua yang bisa menghancurkan satu.