HSTORIA VITAE MAGISTRA

Oleh : Haris Firmansyah

Sejarah Sering kali diabaikan dan bahkan dianggap sepele oleh sebagian masyarakat kita, ini merupakan fenomena yang sangat berbahaya bagi bangsa tercinta ini, memang kelihatannya sederhana sekali. Namun, ketika sejarah tidak lagi di pandang atau diabaikan kelak bangsa ini akan kehilangan jati diri bangsanya.
Pada dasarnya sejarah memiliki sisi yang sangat esensial dalam kehidupan manusia baik secara personal maupun kelompok, karena sejarah memiliki pengaruh dalam tiga dimensi waktu kehidupan manusia (masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang).
”Historia Vitae Magistra” itulah kata seorang filsuf Yunani, sejarah adalah guru kehidupan. Memang benar apa yang dikatakannya, tanpa kita sadari bahwa tanpa sejarah kita tidak akan ada dan dengan adanya masa lalulah kita bisa selalu belajar agar bagaimana kehidupan kita saat ini dan yang akan datang jauh lebih baik lagi.
Sejarah tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tapi sejarah memiliki peranan penting yang dapat membentuk kepribadian seseorang yang biasa menjadi luar biasa. Selain itu, Haris Zaky Mubarak dalam artikelnya yang berjudul ”Pengembangan Muatan Lokal Dalam Pembelajaran Sejarah” menyatakan ”pentingnya pemahaman pengertian sejarah untuk kehidupan sehari-hari menjadikan siswa (seseorang) mempunyai kemampuan untuk berinteraksi di masyarakat. Sejarah dapat diibaratkan pendidik, karena dapat mendidik jiwa manusia lewat hasil yang dicapainya (Trevelyan 1957 : 228).
Pembelajaran sejarah bukan hanya menanamkan pemahaman masa lampau hingga masa kini, tapi juga menumbuh kembangkan rasa kebanggaan dan citra tanah air. Bangga sebagai Bangsa Indonesia merupakan pengalaman berarti untuk menumbuh kembangkan rasa kebanggaan dan kecintaan pada manusia secara universal”.
Sejarah juga dapat dijadikan pondasi untuk berpikir bijak untuk menjalani kehidupan ini yang penuh dengan pilihan.
”JAS MERAH ; ( Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”. (Tajuk pidato Ir. Soekarno).

*Ketua Umum HIMAS
STKIP-PGRI Pontianak

Mandor, Sejarah Yang Terabaikan

BANGSA ini penuh dengan sejarah yang kelam, namun sarat akan makna dan ilmu. Sayang sekali jikalau sejarah yang ada di bangsa tercinta ini diabaikan begitu saja, tapi itulah kenyataannya sejarah selalu diremahkan, hanya dengan alasan ”yang sudah terjadi, sudahlah lupakan saja”. Sebenarnya yang sudah terjadi itu dapat dijadikan pelajaran untuk memperbaiki masa depan bangsa ini.
Salah satu sejarah yang sangat dramatis adalah Pristiwa Mandor, mungkin tidak banyak yang tahu tentang sejarah ini (Ma’af! ”tidak tahu atau tidak mau tahu”). Peristiwa yang terjadi sekitar tahun 1942-1945 ini telah memakan korban yang tidak sedikit. Namun, suara kesengsaraan rakyat yang menjerit keras seakan tertutupi oleh awan tebal yang sangat pekat. Kita selalu dipaksakan untuk meresapi kesengsaraan rakyat tanah jawa yang pada dasarnya sama susahnya dengan kesengsaraan yang terjadi di Kalimantan Barat sehingga kita melupakan sejarah daerah kita sendiri. Padahal, pada zaman pendudukan Jepang adalah merupakan suatu masa yang diselimuti oleh kelaparan, derita, kemiskinanan, ketakutan, air mata, dan darah. Masa suram semacam itu tidak hanya terjadi di pulau Jawa atau Sumatra, tetapi malanda semua penjuru tanah air termasuk Kalimantan Barat. Satu generasi terbaik kalimantan barat telah habis dibantai. Rekayasa atau tidak, yang pastinya lebih dari 1.000 nyawa terlanjur lenyap. Mereka tewas di ujung samurai dan bedil senjata balantara Jepang. Dapat kita bayangkan, jika generasi terbaik itu tidak dibantai, mungkin Kal-Bar akan tidak terperuk seperti saat ini.
Mungkin bisa dikatakan bahwa sejarah ini tidak dilupakan hanya saja diabaikan. Pemerintah contohnya, mereka sudah mulai tampak memperhatikan hal ini, untuk mengenang para pejuang yang menjadi korban keganasan tentara Jepang di Kal-Bar, maka pemerintah Daerah Tingkat I Kal-Bar mendirikan monumen di Mandor sebagai simbol adanya perjuangan dan perlawanan terhadap Jepang di Kal-Bar pada tahun 1976/1977. kompleks monumen dilengkapi dengan plaza yang luas, di kiri - kanan monumen dibuat dinding beton, masing-masing berukuran 15x2,5 m berhiaskan relief. Monumen ini diarsiteki ir.M.Said Djafar, desain relief oleh seniman lukis Kal-Bar Syekh Abdul Aziz Yusnian dan pembuatan relief oleh Hermani Cs. Monumen itu diberi nama ”Monumen Makam Juang Mandor”. Selain itu pemerintah dengan bertujuan untuk menumbuhkan rasa saling menghargai dan menanamkan rasa cinta pada bangsa dan negara, disamping juga untuk mengenang peristiwa Mandor, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Peraturan Daerah NO.5 Tahun 2007 menetapkan tanggal 28 Juni sebagai Hari Berkabung daerah (HBD) Kalimantan Barat. Tanggal ini diambil karena bertepatan dibangunnya Monumen yang diresmikan bersamaan dengan ziarah massal 28 juni 1977. sejak peraturan itu ditetapkan maka mulai tahun 2007 setiap tanggal 28 Juni dilakukan pengibaran setengah tiang di kantor-kantor instansi pemerintah dan masyarakat.
Sungguh sangat luar biasa perhatian pemerintah, namun kita sudah ketahui bersama, bagaimana keadaan hari-hari bersejarah lainnya di bangsa indonesia, sejarah akan selalu menjadi romantisme masa lalu yang hanya menjadi kenangan bukan sebagai History as past actuality, sejarah sebagai peristiwa yang patut dipelajari tidak hanya dikenang sehingga generasi masa depan bangsa ini akan selalu tumbuh dengan sifat dan rasa nasionalisme yang tinggi tanpa menghilangkan jati diri bangsanya.
Kita sebagai masyarakat juga harus peduli untuk memperhatikan masalah ini, kita harus memulai dari diri kita sendiri untuk terus memperhatikan sejarah Lokal dan bukan hanya peristiwa mandor saja, agar sejarah Kal-Bar mulai terangkat kepermukaan dan bisa menjadi sejarah yang berskala nasional, jika kita tidak ingin sejarah Kal-Bar hanya sekedar menjadi cerita rakyat yang semakin dilupakan dari generasi-kegenerasi. Harapan kita semua agar sejarah lokal dapat dimasukan di kurikulum dalam mata pelajaran sekolah Muatan Lokal agar generasi muda Kal-Bar mengetahui sejarah daerahnya sendiri, jadi sejarah nantinya bukan hanya menjadi ritulyang dilakukan setahun sekali, tapi dapat menjadi media pembelaaran secara terus menerus dan pembentukan nilai-nilai luhur dalam memahami sejarah.