Ceritaku di sungai Kapuas

Tujuan ku adalah desa sungai Enau, kec. Kuala mandor B, kab. Kubu raya. Tepatnya smpn 3. Sebelumnya aku sudah pernah surve, di MTS Walisongo tempatku memantau ujian. Kamis kemaren. Di daerah kubu padi. Pa’ dody guru mts walisongo yang ku temui disana. Hanya memberikan alamat tempat sekolah mereka nginduk buat ujian. Ya alamat yang di berikannya seperti apa yang kutulis di tujuan ku.
Selain itu p’dody juga memberiku no hp kepsek mts walisongo pak faisal namanya. sebelum barangkat, aku sudah menghubungi beliau. Aku dirsuruh pergi sesuai alamat yang diberi pa’dody lalu cari rumah pak Ibrahim katanya. Karena anak-anak mts walisongo juga bakalan nginap disana termasuk beliau juga.

Setelah beberapa jam aku di motor air, pukul 11.30 wib.
Ku panggil salah satu awak motor air “sinar bulan”, ku beritahu tujuanku. Lalu ia pergi menuju orang yang mengendalikan setir motor air. Sepertinya ia member i tahukan tujuanku. Orang disampingnya bertanya padanya. Mereka ngobrol sambil menunjuk kearahku. Entah apa? tak kedengaran di telingaku. Pikiranku mulai negative. “sepertinya ada yang tak beres ni” bisikku dalam hati.
Beberapa menit kemudian, abang yang tadi memanggil ku. Katanya sudah dekat. Aku disuruh menuju pintu depan motor air. Si bodoh yang tak tahu di mana alamat tujuannya ini pun mengikuti apa yang disuruh abang itu. “sudah sampai”. Katanya judes. Wah semakin tak enak perasaanku. Aku diberhentikan di seteher yang sepi seperti tanpa penghuni. Pikiranku semakin negative “jangan-jangan orang-orang ini mengerjaiku”. Aku tak mau langsung turun. Ku bertanya lagi, “benar ini tempatnya?” orang-orang berkulit hitam mungkin kawan-kawan abang itu keluar. semua mata tertuju padaku. Aku terdesak secara emosional. Habis aku ditanya-tanyai seperti penjahat. Kau mau kemana? Mau ngapain? Kerumah siapa? Semuanya ku jawab. Dan aku masih tak percaya bahwa seteher ini adalah tempat tujuanku. Aku beritahu kamis kemaren aku sudah pergi surve, aku lihat ada smp di dekat sungai. Aku yakin itulah smpn 3. Mereka semakin mendesak ku. “ mana ada lagi smp negri disini, kecuali disini”. Dari dalam ada yang bicara lagi suaranya agak sedkit seram “kau masuk saja, nanti kau Tanya sama orang disana”. Si bodoh ini pun turunlah dari motor air. Ku bayar 15.000. begitu ku bayar tak lagi ada kata yang mereka keluarkan kecuali tatapan sinis dan langsung pergi meninggalkanku.
Sekarang aku berada dalam situasi yang bagiku begitu menegangkan. Aku berdiri di sebuah seteher yang seram, sepi dan sunyi. Sesekali hanya kedengaran suara-suara yang asing ditelingku. Suara yang jarang kedengaran ditengah kota pontianak. Disamping seteher ada gudang, tak tahu gudang apa itu, lampunya hidup. Di depan seteher terbentang sungai, di belakang hanya ada jalan dengan lebar setengah meter, jalanya lurus, diujung jalan kelihatan rumah beratap daun. Jalannya gelap. Sisi kanan kiri hutan. Ku langkahkan kakiku menelusuri jalan itu. Baru sampai separuh jalan, kutarik lagi langkahku. Kembali di seteher itu. pikiranku semakin kacau, pasti mereka yang berada di motor air itu tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengerjaiku. Sumpah serapah yang tak pernah keluar dari mulutku, akhirnya keluar. Nama-nama binatang pun kukeluarkan. Seolah-olah aku seperti mengabsen satu persatu binatang itu. Aku bingung mau melakukkan apa. Aku tak tahu aku berada di daerah mana. Ku buka hpku, sinyal satu pun tak ada.
Bertanya tak ada satu orang pun. Ku perhatikan papan nama desa yang dibuat mahasiswa untan yang pernah kkn disini. Papanya tertulis “RUMAH + 400 m”, selain itu juga ada coretan kecil mengunakan pensil tertulis “smpn 3”. Ku yakinkan diriku lagi bahwa daerah ini benar tujuanku. Ah…tapi…kok tempatnya seram. Keragu-raguan mulai menguasai. Sekali lagi kuyakinkan diriku. Kumantabkan langkahku. Kutarik nafas dalam-dalam. Ku busungkan dadaku. Ya…langkahku jadi mantab. Dengan menyebut asma Allah ku melangkah “bismilahirrahmanirahim”.
Beberapa langkah kedepan, bulu tengkukku merinding. Disis kiri jalan hutan yang lebat begitu banyak suara-suara aneh, disemak-semak sana bergerak-gerak. Pikiranku tak karuan. Nyaliku hampir ciut. Kalau aku mundur aku tak bisa ngapa-ngapain tapi kalau tetap maju pasti ada orang yang bisa kutanyai. Ku terus berjalan dalam ketakutanku. Kurang lebih 400 meter dari seteher rupanya ada perkampungan. Lumayan banyak rumah. Ada persimpangan ku belok sebelah kanan. Ada bapak yang mengunakan baju tentara. “permisi pak, smpn 3 disini dimana ya?”, Alhamdulillah bapak itu ramah, dia beritahu jalanya. Katanya ikut saja jalan setapak ini yang sebelah kiri nanti pasti ketemu smpn 3.
Ku ikuti petunjuk bapak itu. aku mulai yakin daerah ini tempat tujuanku.

Jam 12.05 wib
Panas matahari semakin membuat kulit hitamku bertambah legam. Aku keluarkan buku hitamku, disitu ada no hp pak faisal. Sudah kurang lebih 200 m ku berjalan dari tempat bapak berbaju tentara itu tak kunjung kulihat papan nama sekolahan yang kucari. Keyakinanku mulai luntur. Ku telpon pak faisal, ku bertanya lagi alamat smpn 3. Alhamdulillah jawabannya sesuai dengan daerah ini.
Sunyi kampung ini membuat aku agak sedikit takut, kembali ku keluarkan hpku. Ku telpon seorang gadis (tak perlu kusebutkan namanya) yang ku anggap dapat menemaniku dalam ketakutanku. Baru beberapa menit nelpon, beberapa meter di depanku berjalan seorang bapak menggunakan caping. Ia menyapaku, lalu ku bertanya. Dimana smpn 3 dan rumah pak Ibrahim. Alhamdulillah bapak yang kujumpai baik, namanya pak ino. Guru sd. Berasal dari suku dayak. Pak ino menunjukanku di mana smpn 3 dan mengantarku ke rumah pak Ibrahim. Akhirnya aku sampai dimana tempat tujuanku.

Ais.
31-3-2010
Ukm center

Di tepi ayani, semuanya berakhir

Kawan, hari dimana telah lama terbayangkan olehklu pun terjadi. Dan itu karena ulahku sendiri yang tak menghargainya sebegai seorang gadis yang mencitaiku. Semua keadaan tercipta dalam situasi yang tak mengeanakan. Aku larut dalam segala hal yang kuanggap penting bagiku. Aku sibuk. Aku lupakan dirinya. Kini semuanya hanya tinggal kenangan. Ma’afkan aku!
Diruang 10 dikampusku ini aku menggerakan jari jemariku, mengetik setiap huruf di leptop hingga terngkai dalam beberapa kalimat, kembali menginggat apa yang terjadi tadi malam di tepi jalan ayani ketika aku duduk berdua dengannya membicarakan masalah-masalah dalam hubungan kami. Kali ini ia lebih tanpa beban kulihat, namun masih tetap sama seperti sebelum-sebelumya yakni diamnya. Ku coba membuka pembicaran dengan canda-canda basi lalu kami diam dalam gemuruh kendaraan di jalan ayani. Bicara sesekali lalu diam lagi. Seperti takut-takut. Tapi kupikir masalah kami harus selesai secepatnya. Ku beranikan diri, menggerakan lidahku yang begitu kelu. “bang kira kita berdua sudah tau masalahnya gimana, jadi gak perlu kita bicarakan lagi”. Ia tersenyum menolehku, aku memandang matanya dan membalas senyumnya. Tanganku memainkan sesuatu. Mencoba melawan rasa takut.
Setelah banyak yang kami bicarakan, kami diam lagi. Beberapa menit kemudian. “pasti tak maukan kita dalam keadaan seperti ini terus”. Kataku menoleh kearahnya. “ya gaklah, Rien memang cuek dalam hal pribadi”. Sepontan kujawab ”cuek, itu aritnya hubungan kita tak ada artinya bagi Rien?”. Lalu ia jawab “mungkin” sambil mengerakan kepalanya. Ku bertanya lagi padanya “kenapa gak dari dulu ngomong?”. “mang bang pernah punya waktu buat rien?” nadanya agak sedikit naik, seperti agak marah. Aku terdiam, memang salahku. Aku akui itu.
Entah sudah berapa ratus kendaraan lewat didepan kami, kami tak peduli itu. kali ini harus benar-benar serius. “jadi yang terbaik buat kita?” tanyaku. “kita sudahan saja” jawabnya santai. Aku terperangah. Tak percaya ia begitu santainya mengeluarkan kata-kata itu. itu artinya hubungan kami berakhir. Tapi aku sadar ia begitu santai karena sudah tak lagi tahan dengan sikapku padanya.
Ya..malam itu. hubungan kami berakhir. Kuberharap aku dan rien tetap berteman.
Sebenarnya masih ada lagi yang mau kutulis, tapi aku…..
Ah sudahlah, cukuplah aku.

14/3/2010
Ais.oarang aneh

Di atas sungai Kapuas ku bercerita

Di atas sungai Kapuas kubercerita
Duduk di dalam motor air, menelusuri sungai Kapuas ke arah hulu. Sendiri pula, baru pertama kalinya aku pergi sendiri. Biasanya pasti sama teman-teman yang lain. Tapi tak apalah belajar hidup sendiri (sok mandiri pula’ tu). Sungai kapuas sebenarnya begitu tampak eksotis dan menarik. Namun sayang kawan, itu hanya sebenarnya. kapuas yang hanya di kenal panjangnya ini, sejauh mataku memandang di atas air sungai yang ada hanyalah sampah , yang di buang tangan-tangan jahil manusia tak bertanggung jawab. Jika lagu “sungai Kapuas” dalam liriknya menyatakan “jika minum aeknya, susah nak negulapakkannye” aku berani katakan itu benar sekali “susah nak ngelupakkanya karena habis minum airnya, mencret-mnceret sakit perut”
Sudahlah kawan, kita tak perlu bersedih. Sungai Kapuas tetaplah sungai terpa……………………………………………………………..njang di Indonesia. Dan itu cukup membuat kal-bar selalu dibicarakkan diluar kota sana. Di tambah lagi kal-bar akan terkenal olehnya “Kapuas sungai terpanjang dan terkotor di Indonesia” kan dapat predikat baru. Aku tak bakalan banyak bercerita tentang sungai Kapuas. Predikat itu sudah lama melekat dan hanya akan berubah menjadi peredikat baru “terpanjang dan terbersih” jika kesadaran kita sebagai masyarakat kal-bar tumbuh untuk menjaga keindahan sungai Kapuas.
Hari ini, di atas sungai Kapuas aku ingin menceritakan sesuatu. Tentang dirinya. Yang aku cintai.
Kau tahu kawan, senyumnya telah begitu menyejarah dalam hidupku dan memberikan warna baru. Serasa tak mau melihat yang lain. Yang ada dalam benakku adalah senyumnya. Di balik jilbabnya itu aku melihat keindahan yang berbeda. Tak pernah aku melihat itu sebelumnya. Di tambah pula dengan akhlaknya yang solehah. Di atas sungai Kapuas ini aku menumbuhkan bibit cinta yang telah lama tertanam dalam hatiku. Dulu aku tak berani kawan! Aku tak yakin dengan perasaanku sendiri. Sekarang sungai Kapuas telah menjadi saksi atas tumbuhnya bibit itu. kalian boleh saja tertawa, membaca ceritaku ini, bahkan senyum menghina juga tak apa. Itu hak kalian. tapi kawan, yang perlu kau ingat bahwa cerita tentang cinta tak kan pernah habis untuk ditulis. Dari kisah cinta pertama manusia Adam dan Hawa, kisah cintanya sang ratu cantik dari mesir Cleopatra, laila dan majnun, hingga Remo dan Juliet. Dan sekarang cerita cintaku dengan gadis berjilbab itu tak kan pernah bisa habis untuk ditulis walaupun gadis itu belum tentu merasakan hal yang sama sepertiku.
Aku tak perlu, menyebutkan namanya, menjelaskan siapa dirinya kepada kalian kawan. Tapi cukuplah kalian tahu bahwa ia adalah gadis berjilbab yang saat ini telah berada di hatiku. jika ia yang membaca tulisan ini, biarkanlah dirinya yang merasakan, memahami dan mengartikan semuanya.

Ais.
Di atas sungai Kapuas ku bercerita
28/3/2010

oplet dan pemandangan hari ini

Pagi-pagi jalan lancar saja, tiba-tiba agak sediki menuju siang macet jalan tercipta hingga suasana tak mengenakan terjadi. Jalan-jalan penuh dengan gemuruh protes dari berbagai golongan. Ada buruh yang menuntut kenaikan gaji, tani menuntut kesejahtraannya, para guru begitu juga, belum lagi para mahasiswa yang sibuk juga membantu membela rakyat dan membela haknya sendiri yang diatas namakan kesejahteraan rakyat. Huff….tak heran kondisi seperti ini terus terjadi sepanjang tahun. Indonesia gitu loh…, kalau tak ramai bukan Indonesia namanya.
Hebat tak tu?

Belum lagi kehebohan para dewa, eh salah. Para dewan maksudnya. Para wakil rakyat yang ribut. Berteriak dengan lantang “katakanlah yang salah itu salah dan benar itu benar” hatiku bergetar mendengarnya. Rasa takjub meledak-ledak dalam sanubariku. Hebat juga para dewan itu pikirku. Mereka berani mengambil resiko yang besar. Walaupun apa yang dikatakan hanyalah kepalsuan untuk kepentingan mereka pribadi dan fraksi mereka. Ha…ha… hebat sungguh hebat. Ya..kita tinggalkan dulu para dewan itu, kita kembali lagi kepada diriku yang terjebak di jalan yang macet ini. Sengaja hari ini aku naik oplet, agar bisa menikmati pemandangan yang begitu lazim di negeri ini semenjak pasca kemerdekaan. Sungguh indah, aku begitu menikmati semuanya. Maksudnya menikmati disini bukan karena aku senang dengan konidisi Indonesia seperti itu, tapi aku ingin mengenal indonesiaku lebih jauh hingga timbul rasa cinta yang begitu dalam hingga aku tergugah agar turut menjadi bagian dari sejarah bangsa ini untuk merubahanya menjadi lebih baik lagi. Mungkin terlalu naïf memang, hanya dengan kemampuan dan pengetahuan yang minim kumiliki. Apakah mungkin?, dan bukan hanya aku tapi semoga kita semua sebagai genarasi penerus bangsa.

Oplet yang begitu lama jalannya ini, membuatku dapat melihat semua yang terjadi sepanjang jalan. Kali ini mataku tertuju pada ibu separuh baya, pakainnya kumal, sambil menggendong anak ia masuk ke setiap toko, dan menadahkan tanganya. Mukanya memelas kasihan. Mulutnya bicara. Walaupun tak kedengaran di telingaku. seolah-olah aku mengerti apa yang ia katakan “ sedekahnya pak,tambah-tambah untuk beli kulkas”. Jangan ada yang protes. Inikan pandai-pandainya aku saja mengartikan apa yang ibu itu katakana. Tapi kupikir kalian semua juga sudah pada tahu, apa yang di katakan ibu itu. karena ibu itu hanya satu contoh dari seribu satu korban kemiskinan di negeri ini. Di sisi kanan jalan, wah..ada keributan apaan tu…?, ku tinggalkan ibu pengemis itu. kali ini terfokus dengan keributan di sisi kanan jalan. Segerombolan orang berlari sambil berteriak “maling….maling….”. ternyata ada maling. Siapa malingnya?. Ternyata hanya seorang anak kecil kawan, ya…anak kecil, aku melihatnya berlari beberapa meter dari orang-orang dibelakangnya. Anak kecil itu membawa sekantong plastic hitam. Entah apa yang dicurinya?. Aku penasaran. Saying aku tak dapat turun dari oplet, karena tak boleh berhenti sepanjang jalan ini.

Ban oplet terus berputar, mataku liar. Melihat setiap sisi jalan dengan teliti. Aku tak mau ada yang terlewatkan hari ini. Oplet berhenti, karena lampu merah. Beberapa kendaraan motor langsung menerobos, karena tak ada polisi yang jaga. Itulah kebiasaan masyarakat kita. Taat peraturan jika hanya ada yang men gawasi. Sudah lampu hijau, pak sopir menginjak pedal gas opletnya. Sampah-sampah betebaran kesana kemari. Sungguh nakal samapah itu (sampah itu yang nakal atau tangan-tangan kita yang nakal membuangnya sembarangan). Setelah beberapa meter berlalu, sekitar 15 meter di depan . sisi kiri jalan. Ada pos penjagaan polisi, wah…sepertinya pak polis-polis itu lagi asik. Mereka tertawa. Entah apa yang mereka tertawakan. Salah satu dari mereka memegang gelas berisikan kopi. Ada juga yang sedang membaca Koran. Mereka tampak gagah dengan pakain seragamnya. Dan yang pastinya mereka begitu santainya dan menimati hari ini dan hari-hari sebelumnya, dan di belakang sana macet tak terbantahkan sebagai realita yang terabaikan. Mantap gak tu…..
Ternyata oplet sudah mendekati tempat tujuanku, aku harus segera turun, mungkin sampai disi dulu kawan.
Sampai jumpe lagi!