skip to main |
skip to sidebar
RSS Feeds
coretan kata-kata terjelek dari penulis terbodoh
coretan kata-kata terjelek dari penulis terbodoh
23.37
Diposting oleh Haris Firmansyah
Di atas sungai Kapuas kubercerita
Duduk di dalam motor air, menelusuri sungai Kapuas ke arah hulu. Sendiri pula, baru pertama kalinya aku pergi sendiri. Biasanya pasti sama teman-teman yang lain. Tapi tak apalah belajar hidup sendiri (sok mandiri pula’ tu). Sungai kapuas sebenarnya begitu tampak eksotis dan menarik. Namun sayang kawan, itu hanya sebenarnya. kapuas yang hanya di kenal panjangnya ini, sejauh mataku memandang di atas air sungai yang ada hanyalah sampah , yang di buang tangan-tangan jahil manusia tak bertanggung jawab. Jika lagu “sungai Kapuas” dalam liriknya menyatakan “jika minum aeknya, susah nak negulapakkannye” aku berani katakan itu benar sekali “susah nak ngelupakkanya karena habis minum airnya, mencret-mnceret sakit perut”
Sudahlah kawan, kita tak perlu bersedih. Sungai Kapuas tetaplah sungai terpa……………………………………………………………..njang di Indonesia. Dan itu cukup membuat kal-bar selalu dibicarakkan diluar kota sana. Di tambah lagi kal-bar akan terkenal olehnya “Kapuas sungai terpanjang dan terkotor di Indonesia” kan dapat predikat baru. Aku tak bakalan banyak bercerita tentang sungai Kapuas. Predikat itu sudah lama melekat dan hanya akan berubah menjadi peredikat baru “terpanjang dan terbersih” jika kesadaran kita sebagai masyarakat kal-bar tumbuh untuk menjaga keindahan sungai Kapuas.
Hari ini, di atas sungai Kapuas aku ingin menceritakan sesuatu. Tentang dirinya. Yang aku cintai.
Kau tahu kawan, senyumnya telah begitu menyejarah dalam hidupku dan memberikan warna baru. Serasa tak mau melihat yang lain. Yang ada dalam benakku adalah senyumnya. Di balik jilbabnya itu aku melihat keindahan yang berbeda. Tak pernah aku melihat itu sebelumnya. Di tambah pula dengan akhlaknya yang solehah. Di atas sungai Kapuas ini aku menumbuhkan bibit cinta yang telah lama tertanam dalam hatiku. Dulu aku tak berani kawan! Aku tak yakin dengan perasaanku sendiri. Sekarang sungai Kapuas telah menjadi saksi atas tumbuhnya bibit itu. kalian boleh saja tertawa, membaca ceritaku ini, bahkan senyum menghina juga tak apa. Itu hak kalian. tapi kawan, yang perlu kau ingat bahwa cerita tentang cinta tak kan pernah habis untuk ditulis. Dari kisah cinta pertama manusia Adam dan Hawa, kisah cintanya sang ratu cantik dari mesir Cleopatra, laila dan majnun, hingga Remo dan Juliet. Dan sekarang cerita cintaku dengan gadis berjilbab itu tak kan pernah bisa habis untuk ditulis walaupun gadis itu belum tentu merasakan hal yang sama sepertiku.
Aku tak perlu, menyebutkan namanya, menjelaskan siapa dirinya kepada kalian kawan. Tapi cukuplah kalian tahu bahwa ia adalah gadis berjilbab yang saat ini telah berada di hatiku. jika ia yang membaca tulisan ini, biarkanlah dirinya yang merasakan, memahami dan mengartikan semuanya.
Ais.
Di atas sungai Kapuas ku bercerita
28/3/2010