skip to main |
skip to sidebar
RSS Feeds
coretan kata-kata terjelek dari penulis terbodoh
coretan kata-kata terjelek dari penulis terbodoh
23.40
Diposting oleh Haris Firmansyah
Kawan, hari dimana telah lama terbayangkan olehklu pun terjadi. Dan itu karena ulahku sendiri yang tak menghargainya sebegai seorang gadis yang mencitaiku. Semua keadaan tercipta dalam situasi yang tak mengeanakan. Aku larut dalam segala hal yang kuanggap penting bagiku. Aku sibuk. Aku lupakan dirinya. Kini semuanya hanya tinggal kenangan. Ma’afkan aku!
Diruang 10 dikampusku ini aku menggerakan jari jemariku, mengetik setiap huruf di leptop hingga terngkai dalam beberapa kalimat, kembali menginggat apa yang terjadi tadi malam di tepi jalan ayani ketika aku duduk berdua dengannya membicarakan masalah-masalah dalam hubungan kami. Kali ini ia lebih tanpa beban kulihat, namun masih tetap sama seperti sebelum-sebelumya yakni diamnya. Ku coba membuka pembicaran dengan canda-canda basi lalu kami diam dalam gemuruh kendaraan di jalan ayani. Bicara sesekali lalu diam lagi. Seperti takut-takut. Tapi kupikir masalah kami harus selesai secepatnya. Ku beranikan diri, menggerakan lidahku yang begitu kelu. “bang kira kita berdua sudah tau masalahnya gimana, jadi gak perlu kita bicarakan lagi”. Ia tersenyum menolehku, aku memandang matanya dan membalas senyumnya. Tanganku memainkan sesuatu. Mencoba melawan rasa takut.
Setelah banyak yang kami bicarakan, kami diam lagi. Beberapa menit kemudian. “pasti tak maukan kita dalam keadaan seperti ini terus”. Kataku menoleh kearahnya. “ya gaklah, Rien memang cuek dalam hal pribadi”. Sepontan kujawab ”cuek, itu aritnya hubungan kita tak ada artinya bagi Rien?”. Lalu ia jawab “mungkin” sambil mengerakan kepalanya. Ku bertanya lagi padanya “kenapa gak dari dulu ngomong?”. “mang bang pernah punya waktu buat rien?” nadanya agak sedikit naik, seperti agak marah. Aku terdiam, memang salahku. Aku akui itu.
Entah sudah berapa ratus kendaraan lewat didepan kami, kami tak peduli itu. kali ini harus benar-benar serius. “jadi yang terbaik buat kita?” tanyaku. “kita sudahan saja” jawabnya santai. Aku terperangah. Tak percaya ia begitu santainya mengeluarkan kata-kata itu. itu artinya hubungan kami berakhir. Tapi aku sadar ia begitu santai karena sudah tak lagi tahan dengan sikapku padanya.
Ya..malam itu. hubungan kami berakhir. Kuberharap aku dan rien tetap berteman.
Sebenarnya masih ada lagi yang mau kutulis, tapi aku…..
Ah sudahlah, cukuplah aku.
14/3/2010
Ais.oarang aneh