skip to main |
skip to sidebar
RSS Feeds
coretan kata-kata terjelek dari penulis terbodoh
coretan kata-kata terjelek dari penulis terbodoh
23.34
Diposting oleh Haris Firmansyah
Pagi-pagi jalan lancar saja, tiba-tiba agak sediki menuju siang macet jalan tercipta hingga suasana tak mengenakan terjadi. Jalan-jalan penuh dengan gemuruh protes dari berbagai golongan. Ada buruh yang menuntut kenaikan gaji, tani menuntut kesejahtraannya, para guru begitu juga, belum lagi para mahasiswa yang sibuk juga membantu membela rakyat dan membela haknya sendiri yang diatas namakan kesejahteraan rakyat. Huff….tak heran kondisi seperti ini terus terjadi sepanjang tahun. Indonesia gitu loh…, kalau tak ramai bukan Indonesia namanya.
Hebat tak tu?
Belum lagi kehebohan para dewa, eh salah. Para dewan maksudnya. Para wakil rakyat yang ribut. Berteriak dengan lantang “katakanlah yang salah itu salah dan benar itu benar” hatiku bergetar mendengarnya. Rasa takjub meledak-ledak dalam sanubariku. Hebat juga para dewan itu pikirku. Mereka berani mengambil resiko yang besar. Walaupun apa yang dikatakan hanyalah kepalsuan untuk kepentingan mereka pribadi dan fraksi mereka. Ha…ha… hebat sungguh hebat. Ya..kita tinggalkan dulu para dewan itu, kita kembali lagi kepada diriku yang terjebak di jalan yang macet ini. Sengaja hari ini aku naik oplet, agar bisa menikmati pemandangan yang begitu lazim di negeri ini semenjak pasca kemerdekaan. Sungguh indah, aku begitu menikmati semuanya. Maksudnya menikmati disini bukan karena aku senang dengan konidisi Indonesia seperti itu, tapi aku ingin mengenal indonesiaku lebih jauh hingga timbul rasa cinta yang begitu dalam hingga aku tergugah agar turut menjadi bagian dari sejarah bangsa ini untuk merubahanya menjadi lebih baik lagi. Mungkin terlalu naïf memang, hanya dengan kemampuan dan pengetahuan yang minim kumiliki. Apakah mungkin?, dan bukan hanya aku tapi semoga kita semua sebagai genarasi penerus bangsa.
Oplet yang begitu lama jalannya ini, membuatku dapat melihat semua yang terjadi sepanjang jalan. Kali ini mataku tertuju pada ibu separuh baya, pakainnya kumal, sambil menggendong anak ia masuk ke setiap toko, dan menadahkan tanganya. Mukanya memelas kasihan. Mulutnya bicara. Walaupun tak kedengaran di telingaku. seolah-olah aku mengerti apa yang ia katakan “ sedekahnya pak,tambah-tambah untuk beli kulkas”. Jangan ada yang protes. Inikan pandai-pandainya aku saja mengartikan apa yang ibu itu katakana. Tapi kupikir kalian semua juga sudah pada tahu, apa yang di katakan ibu itu. karena ibu itu hanya satu contoh dari seribu satu korban kemiskinan di negeri ini. Di sisi kanan jalan, wah..ada keributan apaan tu…?, ku tinggalkan ibu pengemis itu. kali ini terfokus dengan keributan di sisi kanan jalan. Segerombolan orang berlari sambil berteriak “maling….maling….”. ternyata ada maling. Siapa malingnya?. Ternyata hanya seorang anak kecil kawan, ya…anak kecil, aku melihatnya berlari beberapa meter dari orang-orang dibelakangnya. Anak kecil itu membawa sekantong plastic hitam. Entah apa yang dicurinya?. Aku penasaran. Saying aku tak dapat turun dari oplet, karena tak boleh berhenti sepanjang jalan ini.
Ban oplet terus berputar, mataku liar. Melihat setiap sisi jalan dengan teliti. Aku tak mau ada yang terlewatkan hari ini. Oplet berhenti, karena lampu merah. Beberapa kendaraan motor langsung menerobos, karena tak ada polisi yang jaga. Itulah kebiasaan masyarakat kita. Taat peraturan jika hanya ada yang men gawasi. Sudah lampu hijau, pak sopir menginjak pedal gas opletnya. Sampah-sampah betebaran kesana kemari. Sungguh nakal samapah itu (sampah itu yang nakal atau tangan-tangan kita yang nakal membuangnya sembarangan). Setelah beberapa meter berlalu, sekitar 15 meter di depan . sisi kiri jalan. Ada pos penjagaan polisi, wah…sepertinya pak polis-polis itu lagi asik. Mereka tertawa. Entah apa yang mereka tertawakan. Salah satu dari mereka memegang gelas berisikan kopi. Ada juga yang sedang membaca Koran. Mereka tampak gagah dengan pakain seragamnya. Dan yang pastinya mereka begitu santainya dan menimati hari ini dan hari-hari sebelumnya, dan di belakang sana macet tak terbantahkan sebagai realita yang terabaikan. Mantap gak tu…..
Ternyata oplet sudah mendekati tempat tujuanku, aku harus segera turun, mungkin sampai disi dulu kawan.
Sampai jumpe lagi!