skip to main |
skip to sidebar
RSS Feeds
coretan kata-kata terjelek dari penulis terbodoh
coretan kata-kata terjelek dari penulis terbodoh
20.30
Diposting oleh Haris Firmansyah
KEPALAKU pusing, entah apa yang kupikiran?, tapi yangku tahu aku bingung dengan hidup ini, aku bingung dengan negeri ini. Tiba-tiba bayangan wajah anakku muncul, wajahnya yang mirip sekali dengan ibunya yang sudah lama pergi dan tak akan pernah kembali membuat rinduku membuncah didalam sanubariku yang paling dalam.“Oh anakku kapan kau pulang? ayah rindu padamu”.
Waktu terus berputar, tetap saja mataku tidak mau tertutup, aku sangat lelah hari ini. Umurku yang telah berkepala 5 membuat tulang-tulangku sudah tidak sanggup lagi untuk kerja keras, entah bagaimana aku membiayai anakku lagi untuk kuliah, semua harta bendaku sudah habisku jual dan gajiku sebagai guru tidak akan cukup.
Sudah jam 4 subuh rupanya, perlahan kepalaku mulai baikkan tapi rasa ngantuk tetap higgap di mataku mungkin karena semalaman penuh aku tidak dapat tidur, ingin rasanya 5 menit saja untuk memejamkan mata ini tapi tetap saja tidak bisa. Dari gubuk sederhana yang dulu penuh cinta dan kebahagian, tapi sayang sekali semua itu sekarang sudah jadi kenangan belaka, istriku sudah meninggal dan anakku pergi menuntut ilmu yang kelak dialah menggantikanku mengajar disini karena itulah cita-citanya, dia ingin menjadi Omar Bakri sejati katanya. Dari gubuk itu aku mendengar Asma Allah menggema di subuh hari, sahut menyahut dari satu masjid ke masjid yang lain.Membangunkan setiap insan yang beriman dari kenikmatan tidur yang malam ini tidak aku dapatkan. Kulaksanakan panggilannya. Kusujud dengan penuh kekhusyukan. Setelah sholat subuh, aku lihat sang surya mengintip malu dari ufuk timur yang mulai menampakkan dirinya yang kemudian menghiasi warna langit, membuat hati setiap insan yang beriman tiada berhenti bertasbih memuji Rabb semesta alam yang telah menciptakan moment yang terindah di subuh hari. Embun pagi juga ikut menghiasi bumi tercinta, menyejukan qolbu insan-insan yang bertasbih memuji Allah yang menambah keimanan mereka.
Sekarang kepalaku sudah sembuh, lelahku, ngantukku, juga tidak ada lagi. Sekarang yang ada hanya rasa bahagia, entah kenapa? Sejak 30 tahun yang lalu, sejak aku mulai menjadi guru. Setiap mau pergi mengajar pasti yangku rasakan hanya kebahagian dan penuh semangat mungkin itu yang membuat sakit kepalaku, lelahku dan ngantuku seketika hilang. Setelah siap untuk pergi mengajar aku ambil sepeda butut kesayanganku yang selama ini telah setia menemaniku dan merelakankan punggungnya untukku naiki. Aku kayuh sepedaku dengan kaki rentaku ini, kulihat semua masyarakat disini juga mulai sibuk dengan kerjaan mereka. Setiapku berpapasan dengan masyarakat aku selalu menerima senyuman yang tulus dari hati mereka, inilah salah satu alasanku tetap bertahan didaerah pedalaman ini. Aku cinta dengan desa ini, aku cinta dengan keramahan masyarakat disini yang mungkin tidak akan kudapatkan dikota.
***
Saat aku sampai di pintu gerbang sekolah, aku juga disambut dengan senyuman oleh calon-calon penerus bangsa yang lagi asik bermain. Aku parkirkan sepedaku diparkiran, tak lama setelah aku masuk ke ruangan kantor yang ada hanya Pak Sulaiman dan Ibu Nurain, memang hanya mereka yang ada dikantor sekolah reot ini karena guru yang ada hanya kami bertiga, mereka berdua tersenyum melihatku, tiba-tiba lonceng berbunyi yang bertanda jam pelajaran sudah mulai. Dengan rasa bahagia dan ikhlas kulangkahkan kakiku menuju kelas yang penuh anak-anak yang haus dengan ilmu.
“Assalamualaikum...........!!”.
“waalaikumsalam...Pak!!.”jawab anak-anak muridku dengan suara yang nyaring
“selamat pagi anak-anak!!!”.
“pagi pak”.anak-anak itu menjawab kempok dengan suara yang lebih nyaring lagi
Melihat antusias anak-anak itu semangatku terus bertambah untuk mengajar. Hari ini jadwal aku mengajar pelajaran agama Islam. Dan hari ini aku menyampaikan tentang Nabi Muhammad Saw dan yang inginku sampaikan tentang kepemimpinan Beliau karena aku ingin kelak anak-anak calon penerus bangsa yang ada didepanku ini dapan menjadikan Nabi Muhammad sebagai suritauladan mereka dalam memimpin baik memimpin diri sendiri maupun memimpin negeri tercinta ini. Karena setiap manusia adalah pemimpin dan pemimpin harus bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukannya.
Saat aku menjelaskan tentang kepemimpinan Rasulullah, tiba-tiba ada anak yang berteriak mengangkat tangannya. Anak ini bernama Harfi, ia memang juara umum disekolahan ini dan aku kagum kekritisannya dalam berfikir dibandingkan teman-temannya yang lain.
“ma’af Pak, boleh saya bertanya?”.kata Harfi
“iya Harfi”.jawabku
“begini Pak, kalau Nabi Muhammad bener pemimpin yang baik dan beliau adalah Nabi kita sebagai umat muslim, sebagai contah kita dalam bertindak, mengapa banyak orang-orang pintar yang beragama islam yang menjadi pemimpin kita banyak yang korupsi dan menipu rakyat Pak????”. Tanyanya dengan muka yang serius
Aku tersentak kaget mendengar pertannyaan anak kecil ini, diam-diam bibirku mengucapakan kalimat “Subhanallah” aku benar-benar kagum dengan anak yang berkulit hitam ini, mungkin anak sekecil dia juga sudah mulai bosan dengan tingkah laku pemimpin zaman sekarang yang notabennya islam tapi sering menipu rakyat. Mungkin inilah juga yang membuatku tadi malam bingung tentang negeri ini.
“Nabi Muhammad adalah sesok pemimpin yang sempurna, kita harus menjadikannya panutan kita dalam bertindak, pemimpin kita bukannya tidak tahu tentang hal ini tapi mereka tidak mau tahu karena mereka lebih mementingkan kehidupan dunia sehingga rela melakukan apa aja demi kekayaan padahal harta tidak dibawa mati”.jawabku
Aku berharap mereka belum puas dengan jawabanku agar mereka belajar untuk berfikir tentang kepemimpinan karena mereka-mereka inilah yang kelak akan menjadi calon pemimpin di negeri tercinta ini. Dan ternyata mereka benar-benar belum puas dengan jawabanku, Harfi menanya kembali dan anak-anak yang lain juga terus mengajukan pertanyaan. Aku bersyukur bisa menjadi guru, karena kelak calon-calon insyur, ilmuan, bahkan Presiden akan mencul dari tanganku dan dari tangan berjuta guru di Indonesia yang nasibnya tidak terlalu dipedulikan oleh pemerintah.
Tidak terasa sudah dua jam berlalu, jam mengajar sudah selesai kemudian aku pamitan kepada anak-anak. Aku harus pulang cepat hari ini untuk mengambil gajiku di kota karena kalau kesiangan aku tidak bisa pergi ke kota hari ini. Dari kelas aku langsung menuju ke kantor untuk mengambil tasku, di kantor hanya ada Pak Sulaiman.
“Pak Sulaiman, saya pulang dulu ya, harus mengambil gaji hari ini. Bapak kapan ngambil gajinya?”.
“iya Pak Zai, mungkin besok”.jawabnya,
Pak Sulaiman memanggilku Zai karena namaku Zaidadi. Dari sekolahan aku langsung pulang kerumah kemudian langsung pergi ke kota, karena jarak dari desa ke kota terlalu jauh aku tidak naik sepeda aku harus naik ojek.
****
Warna langit mulai memerah, sang surya berada diujung barat bumi. Aku baru sampai dari kota, lelah mulai menguasai tubuh tuaku ini. Aku istirahatkan tubuhku di kursi yang ada di teras rumahku. Aku letakan gajiku di meja, yang kulihat hanya ada uang sebesar Rp.500.000, hanya tinggal segitulah gajiku sekarang. Aku pun teringat dengan surat Risa anakku yang minta dikirimkan uang RP.1.000.000 untuk daftar ulang kuliahnya.
Tidak ada yang dapat dijual lagi, dengan tubuh tuaku aku harus benar-benar banting tulang lagi untuk membiayai kuliah Risa dan hidupku sehari-hari. Kerja apapun akan aku lakukan yang penting halal karena bagiku lebih baik mati kelaparan dari pada makan uang haram itulah perinsipku dan aku harus mencontohkan kepada murid-muridku bahwa hidup itu harus berusaha dan berusahanya tidak boleh melanggar ajaran-ajaran sang Ilahi.
Tiba-tiba terbisit dalam hatiku “mengapa gaji guru kecil??padahal insyur, anggota-anggota dewan bahkan presiden sekalian bisa baca tulis dan menjadi pintar itu karena guru”. Aku langsung istirgfar, entah kenapa pikiran itu muncul dalam benakku. Aku langsung membuang pikiran itu jauh-jauh karena aku takut keikhlasanku selama ini mendidik,mengajar dan sebagai guru hilang sia-sia. Walaupun begitu aku tetap bangga jadi guru.
selesai