Ceritaku di sungai Kapuas

Tujuan ku adalah desa sungai Enau, kec. Kuala mandor B, kab. Kubu raya. Tepatnya smpn 3. Sebelumnya aku sudah pernah surve, di MTS Walisongo tempatku memantau ujian. Kamis kemaren. Di daerah kubu padi. Pa’ dody guru mts walisongo yang ku temui disana. Hanya memberikan alamat tempat sekolah mereka nginduk buat ujian. Ya alamat yang di berikannya seperti apa yang kutulis di tujuan ku.
Selain itu p’dody juga memberiku no hp kepsek mts walisongo pak faisal namanya. sebelum barangkat, aku sudah menghubungi beliau. Aku dirsuruh pergi sesuai alamat yang diberi pa’dody lalu cari rumah pak Ibrahim katanya. Karena anak-anak mts walisongo juga bakalan nginap disana termasuk beliau juga.

Setelah beberapa jam aku di motor air, pukul 11.30 wib.
Ku panggil salah satu awak motor air “sinar bulan”, ku beritahu tujuanku. Lalu ia pergi menuju orang yang mengendalikan setir motor air. Sepertinya ia member i tahukan tujuanku. Orang disampingnya bertanya padanya. Mereka ngobrol sambil menunjuk kearahku. Entah apa? tak kedengaran di telingaku. Pikiranku mulai negative. “sepertinya ada yang tak beres ni” bisikku dalam hati.
Beberapa menit kemudian, abang yang tadi memanggil ku. Katanya sudah dekat. Aku disuruh menuju pintu depan motor air. Si bodoh yang tak tahu di mana alamat tujuannya ini pun mengikuti apa yang disuruh abang itu. “sudah sampai”. Katanya judes. Wah semakin tak enak perasaanku. Aku diberhentikan di seteher yang sepi seperti tanpa penghuni. Pikiranku semakin negative “jangan-jangan orang-orang ini mengerjaiku”. Aku tak mau langsung turun. Ku bertanya lagi, “benar ini tempatnya?” orang-orang berkulit hitam mungkin kawan-kawan abang itu keluar. semua mata tertuju padaku. Aku terdesak secara emosional. Habis aku ditanya-tanyai seperti penjahat. Kau mau kemana? Mau ngapain? Kerumah siapa? Semuanya ku jawab. Dan aku masih tak percaya bahwa seteher ini adalah tempat tujuanku. Aku beritahu kamis kemaren aku sudah pergi surve, aku lihat ada smp di dekat sungai. Aku yakin itulah smpn 3. Mereka semakin mendesak ku. “ mana ada lagi smp negri disini, kecuali disini”. Dari dalam ada yang bicara lagi suaranya agak sedkit seram “kau masuk saja, nanti kau Tanya sama orang disana”. Si bodoh ini pun turunlah dari motor air. Ku bayar 15.000. begitu ku bayar tak lagi ada kata yang mereka keluarkan kecuali tatapan sinis dan langsung pergi meninggalkanku.
Sekarang aku berada dalam situasi yang bagiku begitu menegangkan. Aku berdiri di sebuah seteher yang seram, sepi dan sunyi. Sesekali hanya kedengaran suara-suara yang asing ditelingku. Suara yang jarang kedengaran ditengah kota pontianak. Disamping seteher ada gudang, tak tahu gudang apa itu, lampunya hidup. Di depan seteher terbentang sungai, di belakang hanya ada jalan dengan lebar setengah meter, jalanya lurus, diujung jalan kelihatan rumah beratap daun. Jalannya gelap. Sisi kanan kiri hutan. Ku langkahkan kakiku menelusuri jalan itu. Baru sampai separuh jalan, kutarik lagi langkahku. Kembali di seteher itu. pikiranku semakin kacau, pasti mereka yang berada di motor air itu tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengerjaiku. Sumpah serapah yang tak pernah keluar dari mulutku, akhirnya keluar. Nama-nama binatang pun kukeluarkan. Seolah-olah aku seperti mengabsen satu persatu binatang itu. Aku bingung mau melakukkan apa. Aku tak tahu aku berada di daerah mana. Ku buka hpku, sinyal satu pun tak ada.
Bertanya tak ada satu orang pun. Ku perhatikan papan nama desa yang dibuat mahasiswa untan yang pernah kkn disini. Papanya tertulis “RUMAH + 400 m”, selain itu juga ada coretan kecil mengunakan pensil tertulis “smpn 3”. Ku yakinkan diriku lagi bahwa daerah ini benar tujuanku. Ah…tapi…kok tempatnya seram. Keragu-raguan mulai menguasai. Sekali lagi kuyakinkan diriku. Kumantabkan langkahku. Kutarik nafas dalam-dalam. Ku busungkan dadaku. Ya…langkahku jadi mantab. Dengan menyebut asma Allah ku melangkah “bismilahirrahmanirahim”.
Beberapa langkah kedepan, bulu tengkukku merinding. Disis kiri jalan hutan yang lebat begitu banyak suara-suara aneh, disemak-semak sana bergerak-gerak. Pikiranku tak karuan. Nyaliku hampir ciut. Kalau aku mundur aku tak bisa ngapa-ngapain tapi kalau tetap maju pasti ada orang yang bisa kutanyai. Ku terus berjalan dalam ketakutanku. Kurang lebih 400 meter dari seteher rupanya ada perkampungan. Lumayan banyak rumah. Ada persimpangan ku belok sebelah kanan. Ada bapak yang mengunakan baju tentara. “permisi pak, smpn 3 disini dimana ya?”, Alhamdulillah bapak itu ramah, dia beritahu jalanya. Katanya ikut saja jalan setapak ini yang sebelah kiri nanti pasti ketemu smpn 3.
Ku ikuti petunjuk bapak itu. aku mulai yakin daerah ini tempat tujuanku.

Jam 12.05 wib
Panas matahari semakin membuat kulit hitamku bertambah legam. Aku keluarkan buku hitamku, disitu ada no hp pak faisal. Sudah kurang lebih 200 m ku berjalan dari tempat bapak berbaju tentara itu tak kunjung kulihat papan nama sekolahan yang kucari. Keyakinanku mulai luntur. Ku telpon pak faisal, ku bertanya lagi alamat smpn 3. Alhamdulillah jawabannya sesuai dengan daerah ini.
Sunyi kampung ini membuat aku agak sedikit takut, kembali ku keluarkan hpku. Ku telpon seorang gadis (tak perlu kusebutkan namanya) yang ku anggap dapat menemaniku dalam ketakutanku. Baru beberapa menit nelpon, beberapa meter di depanku berjalan seorang bapak menggunakan caping. Ia menyapaku, lalu ku bertanya. Dimana smpn 3 dan rumah pak Ibrahim. Alhamdulillah bapak yang kujumpai baik, namanya pak ino. Guru sd. Berasal dari suku dayak. Pak ino menunjukanku di mana smpn 3 dan mengantarku ke rumah pak Ibrahim. Akhirnya aku sampai dimana tempat tujuanku.

Ais.
31-3-2010
Ukm center

Di tepi ayani, semuanya berakhir

Kawan, hari dimana telah lama terbayangkan olehklu pun terjadi. Dan itu karena ulahku sendiri yang tak menghargainya sebegai seorang gadis yang mencitaiku. Semua keadaan tercipta dalam situasi yang tak mengeanakan. Aku larut dalam segala hal yang kuanggap penting bagiku. Aku sibuk. Aku lupakan dirinya. Kini semuanya hanya tinggal kenangan. Ma’afkan aku!
Diruang 10 dikampusku ini aku menggerakan jari jemariku, mengetik setiap huruf di leptop hingga terngkai dalam beberapa kalimat, kembali menginggat apa yang terjadi tadi malam di tepi jalan ayani ketika aku duduk berdua dengannya membicarakan masalah-masalah dalam hubungan kami. Kali ini ia lebih tanpa beban kulihat, namun masih tetap sama seperti sebelum-sebelumya yakni diamnya. Ku coba membuka pembicaran dengan canda-canda basi lalu kami diam dalam gemuruh kendaraan di jalan ayani. Bicara sesekali lalu diam lagi. Seperti takut-takut. Tapi kupikir masalah kami harus selesai secepatnya. Ku beranikan diri, menggerakan lidahku yang begitu kelu. “bang kira kita berdua sudah tau masalahnya gimana, jadi gak perlu kita bicarakan lagi”. Ia tersenyum menolehku, aku memandang matanya dan membalas senyumnya. Tanganku memainkan sesuatu. Mencoba melawan rasa takut.
Setelah banyak yang kami bicarakan, kami diam lagi. Beberapa menit kemudian. “pasti tak maukan kita dalam keadaan seperti ini terus”. Kataku menoleh kearahnya. “ya gaklah, Rien memang cuek dalam hal pribadi”. Sepontan kujawab ”cuek, itu aritnya hubungan kita tak ada artinya bagi Rien?”. Lalu ia jawab “mungkin” sambil mengerakan kepalanya. Ku bertanya lagi padanya “kenapa gak dari dulu ngomong?”. “mang bang pernah punya waktu buat rien?” nadanya agak sedikit naik, seperti agak marah. Aku terdiam, memang salahku. Aku akui itu.
Entah sudah berapa ratus kendaraan lewat didepan kami, kami tak peduli itu. kali ini harus benar-benar serius. “jadi yang terbaik buat kita?” tanyaku. “kita sudahan saja” jawabnya santai. Aku terperangah. Tak percaya ia begitu santainya mengeluarkan kata-kata itu. itu artinya hubungan kami berakhir. Tapi aku sadar ia begitu santai karena sudah tak lagi tahan dengan sikapku padanya.
Ya..malam itu. hubungan kami berakhir. Kuberharap aku dan rien tetap berteman.
Sebenarnya masih ada lagi yang mau kutulis, tapi aku…..
Ah sudahlah, cukuplah aku.

14/3/2010
Ais.oarang aneh

Di atas sungai Kapuas ku bercerita

Di atas sungai Kapuas kubercerita
Duduk di dalam motor air, menelusuri sungai Kapuas ke arah hulu. Sendiri pula, baru pertama kalinya aku pergi sendiri. Biasanya pasti sama teman-teman yang lain. Tapi tak apalah belajar hidup sendiri (sok mandiri pula’ tu). Sungai kapuas sebenarnya begitu tampak eksotis dan menarik. Namun sayang kawan, itu hanya sebenarnya. kapuas yang hanya di kenal panjangnya ini, sejauh mataku memandang di atas air sungai yang ada hanyalah sampah , yang di buang tangan-tangan jahil manusia tak bertanggung jawab. Jika lagu “sungai Kapuas” dalam liriknya menyatakan “jika minum aeknya, susah nak negulapakkannye” aku berani katakan itu benar sekali “susah nak ngelupakkanya karena habis minum airnya, mencret-mnceret sakit perut”
Sudahlah kawan, kita tak perlu bersedih. Sungai Kapuas tetaplah sungai terpa……………………………………………………………..njang di Indonesia. Dan itu cukup membuat kal-bar selalu dibicarakkan diluar kota sana. Di tambah lagi kal-bar akan terkenal olehnya “Kapuas sungai terpanjang dan terkotor di Indonesia” kan dapat predikat baru. Aku tak bakalan banyak bercerita tentang sungai Kapuas. Predikat itu sudah lama melekat dan hanya akan berubah menjadi peredikat baru “terpanjang dan terbersih” jika kesadaran kita sebagai masyarakat kal-bar tumbuh untuk menjaga keindahan sungai Kapuas.
Hari ini, di atas sungai Kapuas aku ingin menceritakan sesuatu. Tentang dirinya. Yang aku cintai.
Kau tahu kawan, senyumnya telah begitu menyejarah dalam hidupku dan memberikan warna baru. Serasa tak mau melihat yang lain. Yang ada dalam benakku adalah senyumnya. Di balik jilbabnya itu aku melihat keindahan yang berbeda. Tak pernah aku melihat itu sebelumnya. Di tambah pula dengan akhlaknya yang solehah. Di atas sungai Kapuas ini aku menumbuhkan bibit cinta yang telah lama tertanam dalam hatiku. Dulu aku tak berani kawan! Aku tak yakin dengan perasaanku sendiri. Sekarang sungai Kapuas telah menjadi saksi atas tumbuhnya bibit itu. kalian boleh saja tertawa, membaca ceritaku ini, bahkan senyum menghina juga tak apa. Itu hak kalian. tapi kawan, yang perlu kau ingat bahwa cerita tentang cinta tak kan pernah habis untuk ditulis. Dari kisah cinta pertama manusia Adam dan Hawa, kisah cintanya sang ratu cantik dari mesir Cleopatra, laila dan majnun, hingga Remo dan Juliet. Dan sekarang cerita cintaku dengan gadis berjilbab itu tak kan pernah bisa habis untuk ditulis walaupun gadis itu belum tentu merasakan hal yang sama sepertiku.
Aku tak perlu, menyebutkan namanya, menjelaskan siapa dirinya kepada kalian kawan. Tapi cukuplah kalian tahu bahwa ia adalah gadis berjilbab yang saat ini telah berada di hatiku. jika ia yang membaca tulisan ini, biarkanlah dirinya yang merasakan, memahami dan mengartikan semuanya.

Ais.
Di atas sungai Kapuas ku bercerita
28/3/2010

oplet dan pemandangan hari ini

Pagi-pagi jalan lancar saja, tiba-tiba agak sediki menuju siang macet jalan tercipta hingga suasana tak mengenakan terjadi. Jalan-jalan penuh dengan gemuruh protes dari berbagai golongan. Ada buruh yang menuntut kenaikan gaji, tani menuntut kesejahtraannya, para guru begitu juga, belum lagi para mahasiswa yang sibuk juga membantu membela rakyat dan membela haknya sendiri yang diatas namakan kesejahteraan rakyat. Huff….tak heran kondisi seperti ini terus terjadi sepanjang tahun. Indonesia gitu loh…, kalau tak ramai bukan Indonesia namanya.
Hebat tak tu?

Belum lagi kehebohan para dewa, eh salah. Para dewan maksudnya. Para wakil rakyat yang ribut. Berteriak dengan lantang “katakanlah yang salah itu salah dan benar itu benar” hatiku bergetar mendengarnya. Rasa takjub meledak-ledak dalam sanubariku. Hebat juga para dewan itu pikirku. Mereka berani mengambil resiko yang besar. Walaupun apa yang dikatakan hanyalah kepalsuan untuk kepentingan mereka pribadi dan fraksi mereka. Ha…ha… hebat sungguh hebat. Ya..kita tinggalkan dulu para dewan itu, kita kembali lagi kepada diriku yang terjebak di jalan yang macet ini. Sengaja hari ini aku naik oplet, agar bisa menikmati pemandangan yang begitu lazim di negeri ini semenjak pasca kemerdekaan. Sungguh indah, aku begitu menikmati semuanya. Maksudnya menikmati disini bukan karena aku senang dengan konidisi Indonesia seperti itu, tapi aku ingin mengenal indonesiaku lebih jauh hingga timbul rasa cinta yang begitu dalam hingga aku tergugah agar turut menjadi bagian dari sejarah bangsa ini untuk merubahanya menjadi lebih baik lagi. Mungkin terlalu naïf memang, hanya dengan kemampuan dan pengetahuan yang minim kumiliki. Apakah mungkin?, dan bukan hanya aku tapi semoga kita semua sebagai genarasi penerus bangsa.

Oplet yang begitu lama jalannya ini, membuatku dapat melihat semua yang terjadi sepanjang jalan. Kali ini mataku tertuju pada ibu separuh baya, pakainnya kumal, sambil menggendong anak ia masuk ke setiap toko, dan menadahkan tanganya. Mukanya memelas kasihan. Mulutnya bicara. Walaupun tak kedengaran di telingaku. seolah-olah aku mengerti apa yang ia katakan “ sedekahnya pak,tambah-tambah untuk beli kulkas”. Jangan ada yang protes. Inikan pandai-pandainya aku saja mengartikan apa yang ibu itu katakana. Tapi kupikir kalian semua juga sudah pada tahu, apa yang di katakan ibu itu. karena ibu itu hanya satu contoh dari seribu satu korban kemiskinan di negeri ini. Di sisi kanan jalan, wah..ada keributan apaan tu…?, ku tinggalkan ibu pengemis itu. kali ini terfokus dengan keributan di sisi kanan jalan. Segerombolan orang berlari sambil berteriak “maling….maling….”. ternyata ada maling. Siapa malingnya?. Ternyata hanya seorang anak kecil kawan, ya…anak kecil, aku melihatnya berlari beberapa meter dari orang-orang dibelakangnya. Anak kecil itu membawa sekantong plastic hitam. Entah apa yang dicurinya?. Aku penasaran. Saying aku tak dapat turun dari oplet, karena tak boleh berhenti sepanjang jalan ini.

Ban oplet terus berputar, mataku liar. Melihat setiap sisi jalan dengan teliti. Aku tak mau ada yang terlewatkan hari ini. Oplet berhenti, karena lampu merah. Beberapa kendaraan motor langsung menerobos, karena tak ada polisi yang jaga. Itulah kebiasaan masyarakat kita. Taat peraturan jika hanya ada yang men gawasi. Sudah lampu hijau, pak sopir menginjak pedal gas opletnya. Sampah-sampah betebaran kesana kemari. Sungguh nakal samapah itu (sampah itu yang nakal atau tangan-tangan kita yang nakal membuangnya sembarangan). Setelah beberapa meter berlalu, sekitar 15 meter di depan . sisi kiri jalan. Ada pos penjagaan polisi, wah…sepertinya pak polis-polis itu lagi asik. Mereka tertawa. Entah apa yang mereka tertawakan. Salah satu dari mereka memegang gelas berisikan kopi. Ada juga yang sedang membaca Koran. Mereka tampak gagah dengan pakain seragamnya. Dan yang pastinya mereka begitu santainya dan menimati hari ini dan hari-hari sebelumnya, dan di belakang sana macet tak terbantahkan sebagai realita yang terabaikan. Mantap gak tu…..
Ternyata oplet sudah mendekati tempat tujuanku, aku harus segera turun, mungkin sampai disi dulu kawan.
Sampai jumpe lagi!

INISIAL NAMANYA “i.g”

(realita Yang kufiksikan)

Hari ini tepat jam 3.30 aku duduk di esteler disamping ssa, duduk karena ada janji yang ku buat sendiri dengan seseorang. Perlu diketahui, pertama; janji ini ada sedikit unsur pemaksaan walaupun bunyi sms yang kukirim pada orang itu “abg tunggu di esteler samping ssa, jam 3.30 terserah mau datang taw gak, yang pastinya bg tetap tunggu. Jgan dibalas sms ini y…!”. Kedua; janji ini ku buat pada malam sabtu hari jum’at sekitar jam 8 lewat (tak ingat aku lewatnya berapa) pokoknya segitu deh…, selama terkirimnya sms itu perasaan aku tak setenang hari sebelumnya, setiap sms yang masuk pasti aku tergopoh-gopoh untuk membukanya, ku pikir dari orang itu tapi aku akui ternyata orang itu (ah gak enak nyebutnya “orang itu” ku ganti saja ya…dengan “i.g” itu inisial namanya di facebook) ups..tadi sampai mana? Oya..sampai;… ternyata i.g menuruti permintaanku untuk tidak membalas smsku, tapi aku yang menjadi seperti linglung. Berdetik-detik, bermenit-menit, berjam-jam, bermalam aku gelisah tak ada lain yang kupikirkan selain i.g, setiap di ber-ber itu hanya ada satu pertanyaan yang selalu menyelinap dalam benakku “datang gak ya…i.g besok?”. Kemungkinan jawaban dari pertanyaan itu menurut feelingku yang sudah bertahun-tahun kenal i.g “0,01 % untuk iya dan 99,99% untuk tidak” dan kalian jika berada diposisiku mungkin juga akan beri jawaban seperti itu. Ini hanya sebuah analisis menurut feelingku, mungkin untuk sebagian orang yang selalu berkutat dengan teori-teori ilmiah untuk membuat suatu analisis yang dapat dipertanggungjawabkan mereka pasti berteriak dengan lantang “ANALISIS YANG SALAH”. Tapi aku tetap dengan keyakinanku, tetap dengan analisisku yang tak dapat dipertanggung jawabkan. Kalau kalian berani taruhan, hayo kita taruhan. Oke. Deal!!.
Setalah aku basa-basi sedikit, kenapa aku berada di esteler ini yang selalu ramai dengan anak-anak remaja Pontianak baik itu smp, sma dan anak-anak kulihan yang sering ngumpul bareng teman-teman mereka masing-masing karena tak mungkin mereka ngumpul sama teman-temanku. Kita Kembali lagi di esteler menemui aku yang sedang duduk sendiri di tengah keramaian disana, awalnya aku duduk lesehan diluar pagar lalu seseorang menghampiriku dan ia menawarkan berbagai macam jenis minuman dan makanan, begitu banyak yang ia tawarkan, ketika aku mendengar “air kelapa ditambah susu” spontan aku bilang “yang itu aja”. Ya…yang itu aja air kelapa ditambah susu, sudah lama aku tak minum air kelapa, minuman favoritku waktu kecil.
Jam 3.45 aku diserang matahari dengan panasnya ia mengusirku, akhirnya aku putuskan untuk pindah ke lesehan dalam pagar. sebenarnya tadi aku sudah dinasehati oleh togel (seorang pelayan di esteler, ku sebut ia togel karena ia memberi tahuku kode hotspot disini dengan kode “togel” dalam hati aku tertawa, ada-ada saja orang ini) tapi aku tak terlalu respeck dengan nasehatnya, aku terlalu terkonsentariskan akan harapan hadirnya i.g, mataku mengarah disetiap suara motor yang berhenti diparkiran, sesekali hpku juga membuatku gelisah, harap-harap cemas (cie..cie..harap-harap cemas H2c. macam ye..ye…).
Aku berusaha bersikap tenang, ku buat seolah-olah aku sedang tak menunggu, aku sibukan diriku dengan hotspot yang semenjak aku dari tadi duduk tak bisa browsing padahal sudah connect, ilmuku tak banyak untuk mengetahui penyebabnya apa. aku masih tetap pura-pura sibuk dan pura-pura mengotak-atik leptopku sok tahu. Beberapa menit kemudian, matahari tetap kembali mempermalukan aku, mengusirku tanpa pertimbangan. Ah ini kuasa Tuhan pikirku. Aku pindah lagi, akhirnya aku duduk di kursi yang dari awal memang aku hindari, tak tahu kenapa? hari ini sebenarnya tak ingin duduk dikursi, tapi apa boleh buat, semuanya sudah diatur. Jarum jam ditanganku sudah mengarah pada angka 4. Itu artinya sudah setengah jam aku disini, disini ditengah keramain aku sendiri, disini aku hanya ditemani leptop dan segelas air kelapa+susu.
Ha…ha…aku tertawa dalam hatiku, apa aku bilang? Aku akan menang, analisisku semakin hampir mendekati kesempurnaan. Sekali lagi kubilang aku akan menang, kali ini aku mohon ma’af pada kalian yang para akademisi yang selalu berkutat dengan teori-teori untuk membuktikan analisis yang dapat dipertanggung jawabkan. Rasanya ingin berteriak dari tempatku duduk, kupikir tak ada yang ngelarang aku berteriak, kali ini aku akan berteriak sekuat-kuatnya, ku mohon untuk siapa saja yang membaca ini tak memberitahukan pada siapa-siapa apalagi kalau kalian kenal dengan i.g. kan malu!!. Ya…sebentar lagi aku akan berteriak siap-siap semuanya, aku akan berteriak dalam hatiku “AKU MENANG……”, ku mohon jangan beritahu siapa-siapa. Nanti aku dibilang gila. Oke itu sudah jadi kesepakatan kita bersama. Palu sidang sudah aku ketuk. Tak ada yang boleh melanggar kesepakatan ini. Wah…kok jadi ngelantur gini, atau aku sudah benar-benar gila. Gila karena menunggu, kusarankan pada kalian jangan sering menunggu. Aku mendukung sekali apa yang dikatakan tokoh Cacing yang diperankan Tria changcuters dalam film the tarik jabrik 1 “WAITING IS BORITING”
bosan…bosan…bosa…n………..bosaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!!!cukup.
Bosan mulai menghantuiku. Tapi aku harus tetap menunggu yang ku pikir sesuatu yang tak mungkin, walaupun dapat membuatku gila dalam tanda kutip. Tiba-tiba hp ku berdering. Aku kaget, tak lagi kuliat siapa yang menelpon. Langsung kuangkat saja.
Yang tukang telpon : halo, ini aku!
Aku : aku siape?
Yang tukang telpon : …….ka (suaranya samar-samar)
Aku : ka? (jatungku berdebar-debar, darah terasa ngalir cepat naik ke kepala (lebay dikit), dua huruf itu sama dengan dua huruf terakhir nama panggilan asli i.g)
Yang tukang telpon : mita..mita….kok jadi ka?
Aku : oooo mita, kirain? Ade ape Mit (memang sudah gila jauh banget ta…jadi ka…., sepontan darah yang naik dikepala suu…….ur turun lagi).
Yang tukang telpon : kkl semester 5 bile?
Aku : besok, senen.
Yang tukang telpon : masih bise daftar kan?
Aku : manelah aku tau Mit, kau ni ade-ade jak.
Yang tukang telpon : jadi?
Aku : jadi, cobe kau telpon staf prodi tu, kan mereke panitianye.
Yang tukang telpon : gitu ke…? Iyelah kucobe telpon lok. Mak kaseh ye…!
Aku : iye, same-same
Mau marah rasanya, ada-ada saja Mita. Cobalah dari kemaren daftar. “Halo..jangan gitulah bos, tenang…tetap slow down” hati kecil ku mulai campur tangan . “mane bise tenang, kepalak pening ni, jangan macam-macam”(dalam hati jak berani ngomong gitu). Tapi sudahlah tak penting, mataku kembali liar. Memandang siapa saja yang masuk ke tempat ini. Semuanya asing bagiku. Tak ada yang kukenal. Kuputuskan untuk melupakan kalau aku sudah membuat janji dengan i.g disini. Aku keluarkan hetdset, aku buka lagu untuk menghilangkan kejenuhan yang sedari tadi menggergoti pikiranku. Sambil mendengar music, aku akan membuka memori-memori yang berkapuk dalam otakku, kembali mengingat apa yang pernah terjadi antara aku dan i.g. Dan ini sedikit saja yang akan aku ceritakan pada kalian semua. Untuk kali ini ku izinkan kalian memberitahu siapa saja, kalau perlu kalian kirim surat kepada pak SBY yang terhormat, kalian beritahu apa yang terjadi, biar dia tahu ada rakyat kecilnya yang memiliki romantisme cinta yang aneh. Asalkan kalian yang kenal dengan i.g, jangan sampai memberitahunya. Kalau ketahuan samaku, takkan pernah ku ma’afkan kalian 8 keturunan.
Cerita ini agak sedikit aneh, melankolis, terlalu dideramatisir dan L-L. Tapi terserah kalian deh mau mengartikanya seperti apa.
***
Kami tak pernah sepakat dalam mengartikan cinta, ia tetap dengan prinsipnya dan aku tetap dalam pemaksaan terhadap keinginanku yang selalu kusebut atas nama cinta. Di setiap senja, di belakang rumahku seharusnya kami membuat kesepakatan untuk mengartikan cinta. Tapi ia masih tetap dengan prinsipnya.
Aku sudah lama kenal i.g, tahun 2003 ia tamat SD dan memutuskan untuk tinggal di kampung halamanku. Untuk melanjutkan ke mts yang tepat berada didepan rumah moyangku (ibunya nenekku), ialah yang bakalan menemani moyangku yang beberapa bulan telah tinggal sendiri. Rumahku disisi kiri rumah moyangku. Kalian pasti bertanya kok bisa i.g tinggal di rumah moyangku? Sabar nanti akan kujelaskan. Aku lanjutkan sedikit, saat itu aku, i.g dan bahkan teman-teman yang seumuran denganku saat itu belum tahu apa-apa tentang perasaan terkecuali mereka yang sudah terkena virus yang kusebut “sindrom anak mude zaman sekarang” pengaruh dari pola kehidupan orang-orang barat yang sering disebut pacaran. Pacaran, perasaan, cinta, hubungan, dan segala tetek bengek yang bersangkut paut dengan hal itu, aku tak tahu itu jenis makanan seperti apa. Dan saat itu juga aku tak mau tahu.
Satu tahun aku kenal i.g, hanya kenal nama, ya…hanya nama tak lebih dari itu. Tak pernah aku ngombrol berdua. Aku terlalu sombong. Aku tak terlalu peduli, padahal mataku selalu mencuri setiap kesempatan agar bisa melihat i.g. Aku pikir saat itu aku terlalu masih dikatagorikan anak-anak yang belum cukup umur untuk mengenal segala hal yang kusebutkan tadi. Oya…hampir lupa, tadi aku janji buat cerita kanapa i.g bisa tinggal di rumah moyangku. Ma’af ya…! Senyum dunk! Duh…anak manis, duduk yang manis ya…! Jangan marah lagi. Oke!. i.g adalah anak kakak dari istri adiknya ibunya mamaku. Bingung!!! Artikan saja sendiri, hubungan keluarga seperti apa yang ada antara aku dan i.g terserah kalian menyebutnya apa. Yang pasti seperti itulah hubungan keluarga kami.
Pertengahan 2004 aku ke Pontianak ngelanjutin smaku disana, tahun pertama aku sekolah i.g semakin lenyap dari keramaian baru dalam hidupku. Aku disibukkan untuk beradaptasi di ibu kota khatulistiwa itu. Aku masuk dalam suasana baru yang tak pernah kudapatkan sebelumnya dikampung halaman kutercinta. Masuk tahun kedua aku mulai terjangkit virus “sindrom anak gaul”. Aku mulai belajar mengenal segala hal yang berhubungan dengan perasaan. Ini factor pergaulan, aku tak menyalahkan teman-temanku mungkin aku harus berterima kasih pada mereka. karena itulah kenyataanya. Mereka pelan-pelan mengenalkanku akan kesadaran terhadap cinta. Aku mulai paham setiap orang pasti butuh dengan cinta. satiap apa yang ada pasti butuh cinta. sungai Kapuas airnya mengalir karena cinta hingga sungai ini melahirkan suatu peradaban di bumi khatulistiwa seperti sama halnya sungai nil yang telah melahirkan peradaban tertinggi di Mesir dan itu sama karena airnya yang mengalir ata nama cinta, angin behembus karena cinta, darah yang mengalir dalam setiap makhluk hidup karena cinta. setiap jantung yang berdetak, berdetak karena cinta. Bahkan keteraturan nafas kita, itu karena cinta. Mungkin aku mulai bisa dikatagorikan anak-anak yang mulai cukup umur, aku tak bilang bahwa aku sudah dewasa.
Aku masih ingat hari itu. soreh yang sunyi. Aku duduk diteras rumah kontarakanku. Pamanku belum pulang kerja. Sedangkan si Amad masih disekolahanya. Biasanya motor halu-lalang semahu hati lewat didepan rumah tak ada putus-putusnya. Dan juga tumben kak ida pemilik tokoh disamping rumah juga tutup. Hari itu. sore itu. Sunyi. Sunyi sekali. Senja-senja merah menerbangkanku dalam fatamorgana, lalu sidrom anak gaul itu mengambil kesempatan untuk memaksaku menjelajah disetiap kenangan yang tertukir di dinding-dinding otakku. Memaksaku untuk mencari satu nama. Memaksaku untuk mencintai nama itu. Memaksaku. Terus memaksaku. Aku mulai berontak, namun virus itu telah menyebar disetiap saraf-sarafku. ia telah masuk disetiap pembulu darahku, mematikan kekuatanku, ekspansinya telah berhasil, ia klonialisme yang handal, semua daerah yang penting dalam tubuhku sudah dikuasainya, aku tak berdaya.
Aku terbang kesana kemari dalam pikiranku, aku sampai dalam memori beberapa tahun silam. Disana ku lihat ada anak gadis kecil, menggunakan jaket lepis dan rambut panjang yang di kepang dua. Di jembatan kecil yang menghubungkan rumahku dan moyangku. Disana ia berjalan dengan langkahnya yang kecil. . aku ingat sekali Ia pernah tersenyum melihatku ketika memperhatikannya dari teras rumahku saat itu. Aku berusaha mengingat namanya. Siapa dia? Pikirku. Aku tinggalkan ia, aku terbang lagi ke memori tahun berikutnya setelah itu. dari kejahuan aku melihat 5 anak gadis mangayuh sepeda, sambil tertawa dan bercanda. Mataku langsung terfokus dengan gadis yang berjilbab biru. Wajahnya hampir sama dengan gadis kecil yang rambut panjangnya dikepang dua tadi. “iya…itu dia!” teriakku dihati. Gadis itu sudah berjilbab.
Kali ini aku melanjutkan penjelajahanku dalam memori kenanganku. Gadis berjilbab itulah yang selalu hadir disetiap lembar-lembar kenangan yang kubuka. Kemudian salah seorang temannya memanggil namanya keras. Aku langsung terperangah, jantungku berdetak tak karuan. Nama itu masih jelas terngiang di telingaku. Seolah-olah terus bergema tiada berhenti. Tiba-tiba ia menoleh kearahku. Ia tersenyum. senyuman yang begitu menyejarah. Senyum yang begitu manis. Senyum yang pernah kulihat diatas jembatan kecil disamping rumahku dari seorang anak gadis kecil, mengunakan jaket lepis dan rambut panjang yang di kepang dua. Apakah Itu i.g? ya…itu i.g yang telah tumbuh sebagai anak gadis yang hampir cukup umur pikirku.
Ku bertanya-tanya dalam hati, apakah i.g orangnya? iya. Dialah orang yang pernah aku cintai jauh sebelum aku mengenal cinta dan orang yang harus aku cintai setelah aku mengenal cinta karena terinfeksi oleh virus itu.
Akhirnya kuputuskan untuk mengutarakan perasaanku pada i.g. ig terkejut dengan apa yang terjadi. Mungkin tak pernah terbayangkan olehnya. Saat itu ia sibuk buat persiapan uan. Aku tak pernah peduli akan hal itu. yang penting aku sudah mengungkapkan apa yang kurasakan terhadap dirinya. Jelas ia tidak mau langsung memberikan jawaban. “1bulan” katanya. Aku sanggupin untuk menunggu. Tapi apa, ternyata sudah 2 bulan berlalu, aku masih sabar untuk tetap menunggu. Hingga beberapa hari kemudian aku bertemu dengan dirinya dirumah nenekku. Aku masih ingat sekali. Ia duduk diatas kursi dapur disamping jendela dan aku berdiri didepan pintu. disana Aku menagih janji. Ia hanya diam dan tersipu malu. Ia tak berkata-kata. Aku masih menunggu. Menunggu ia mengatakan sesuatu. Menunggu yang keluar dari mulutnya hanya satu kata “iya”. Tapi ia tetap diam, hingga ia pergi keruang tamu. Disitu ada kakeku, neneku mamaku, bibiku, pamanku, adik-adikku, semua keluargaku sedang berkumpul disitu. aku tak bisa berkata-berkata. Diam seribu bahasa. Aku takut ketahuan. Akhirnya aku tak mendapat jawaban yang pasti.
Aku tak pernah menyerah, berulang kali aku mengutarakan perasaanku. Setiap ketemu. Setiap waktu yang memberikan aku kesempatan. Tapi hasilnya tetap sama. Semuanya samar-samar. Hingga ia bosan lalu marah, pernah suatu harai aku mendatangi ke kelasnya. Ia lagi belajar, berdua dengan teman. Hanya berdua. Aku datang seolah-oleh seperti pengacau. Beberapa pertanyaan aku ajukan tak satupun dijawab, ia hanya berkata “kenapa sih, setiap orang harus ngungkapin perasaanya. Coba bang pendam saja dihati mungkin itu lebih baik. Seperti ….. (ups aku tak mau nyebutin namanya ntar ia marah, yg ku maksud i.g) ada juga suka, tapi i.g pendam dihati”.
Pernah juga, aku bertemu dengan i.g di kantin sekolahnya. Menagih jawaban. Tetap saja ia dengan prinsipnya (tak taulah prinsipnye ape), tak memberi jawaban ia atau tidak, ia mengatakan “di Pontianak sana, banyak cewek yang lebih baik lagi dari i.g” . aku jawab “kalo’ i.g pergi ke tokoh boneka lalu ada satu bonekaa yang langsung menarik perhatian i.g dan i.g hanya suka dengan boneka itu. tak ada yang lain. Sedangkan teman i.g menyuruh membeli boneka yang lain. Mau milih yang mana?” (ngasal-ngasal jak tu…). Tapi aku minta ma’af pada para wanita bukan maksud menganalogikan wanita terhadap boneka yang bisa diperjualbelikan. Mohon ma’af!. Maksud ku disitu, bisa kah dipaksa kalau kita suka dengan seseorang tapi disuruh suka dengan yang lain walaupun orang lain itu jauh lebih baik dari orang yang kita sukai. Gitu loh! Jangan marah dulu.he…sekali lagi ma’af ya…!
i.g selesai dari mts, lalu ia sekolah sma di Pontianak. Tak di sangka. Tak diduga. i.g satu sekolahan samaku. Begitu mengejutkan. Padahal aku mulai ingin mengubur semuanya. Akhirnya semakin tumbuh subur dan sangat besar sekali rasa yang dulu. aku memutar otak untuk mencari cara untuk mendekatinya lagi. Dari mendekati abang sepupunya yang satu angkatan samaku. Terus pura-pura nongkrong di halte biar bisa ngantarnya pulang. Hingga kirim-kiriman surat lewat buku dengan perantara bang sepupunya tadi. Aku masih ingat sekali. Buku itu bewarna hijau dan terakhir tulisannya dalam buku itu i.g menggambar sesosk gadis berjilbab dibalik tulisanya. Tapi tetap saja ia dengan prinsipnya (tak taulah ye…).
Eits….bosan ya..dengar ceritaku. Kalau mau diceritain semua kupikir ntar kepanjangan padahal tadiku bilang mau ceritainya dikit. Itulah kalau sudah bicara tentang i.g aku pandai lupa waktu. Tak ada habis-habisnya kalau mau menceritakan semuanya, mungkin imajinasi aku tak kan pernah habis untuk menulisnya. Sekarang sudah jam berapa ya? Ada yang tahu….? Bentar. Aku lihat jam ku dulu. ooo jam 4.20. “APA…. 4.20?” (biase jak kaleeee). Sudah hampir satu jam. Tapi tak apalah. Tanggung ni, aku singkat-singkat saja ya…
Aku tak pernah lelah. Hanya saja terkadang aku kasian melihat i.g. aku selalu saja menganggunya. Hingga akhirnya kuputuskan untuk tak lagi menganggunya. Aku berjanji. sebelum itu, saat itu pula Pontianak tertutup oleh kabut yang tebal. Yang kata orang bisa menganggu kesehatan. Nah moment itu ku manfaatkan. Sebelum aku berjanji pada I.g untuk tak lagi menganggunya aku memberinya seleyer warna putih. Kenangan terakhirku selain hal-hal yang membuatnya terasa terganggu. Satu pertanyaan aku buat kalian “masih adakah seleyer tersebut sekarang?”. (entahlah ye…penting gak seeee, ya penting dunk bagi aku.) kalau ada yang tahu cepat sms di no hp ku 085252491918 (sekalian promosi no hp). Akan ku beri hadiah yang sepesial nanti.
Semenjak itu, aku tak lagi mengganggunyu dengan keinginanku yang kusebut atas namanya cinta. Semua tentangnya yang tertulis rapi disetiap lembar catat harianku dan di dalam buku yang warna hijau, seharunya semua itu menjadi sejarah. Semunya ku bakar. Bermaksud tak ada lagi i.g dalam setiap lini kehidupanku.
He…he..tertawalah! aku pun terkadang tertawa sendiri kalu ingat dengan apa yang terjadi anatara aku dan i.g. terlalu berlebihan. Terlalu berlebihan bagiku yang saat itu masih berseragam putih abu-abu. Tapi itulah yang tak terlupakan.
***
Kita kembali lagi dengan orang gila yang sedang duduk diestelaer sana. Sudah jam 4.30. benar-benar gila.
“bang…!”. Ada yang memanggil dari belakang.
Orang gila ini pun noleh lah kebelangkang. Ya ampun…ternyata orang gila juga (ma’af…ma’af….). ternyata itu i.g. ia melontarkan senyumnya yang begitu menyejarah.
Senang. Pasti dunk. Baru kali ini, aku duduk berdua denganya di tengah rimba Pontianak.
Banyak yang kami diskusikan, walaupun terkadang aku mulai melihat kebosanan di wajah manisnya itu. aku duduk tak lagi dengan perasan yang dulu hadir untuknya (tak mau ah aku bilang rasa seperti apa yang ada saat ini. Bisa saja tak ada rasa apa-apa dan bisa saja rasa itu semakin dalam). Setalah banyak nogobral dengan i.g, heeh salah, ngobrol maksudnya. Lalu ku ajak i.g pergi ke alun-alun Kapuas. Sebenarnya ku tak berani ngajaknya. Takut di tolak. Ah…tapi ku beranikan diri sajalah. Ternyata ia mau.
Kami pun langsung menuju alun-alun Kapuas, semakin banyak kami bertukar cerita. Rasanya tak mau pulang. Tapi Aku juga harus ingat waktu. Adzan magrib berkumandang. Kami pulang. Katanya ia mau kerumah temanya lagi dan aku kekampus. Di sepanjang jalan tanjung pura aku mengikutinya dari belakang, dikiranya aku belok disimpang pasar sudirman. Sampai di simpang lampu merah, di belakang mobil mataku tetap melihatnya. Ia tak tahu aku aku ada di belakangnya. Ku liat ia mangeluarkan hpnya. Mungkin ia mau sms temanya. Lampu hijau nyala. i.g bujur kearah jalan imam bonjol dan aku belok ke araha jalan veteran. Tiba-tiba hp ku begetar. “tak singgah ke masjid dulu. sholat magrib” ternyata dari i.g, mungkin tadi….., betapa senangnya aku (lebay). Aku balas (ntar aja deh, sholat dikampus).
Hari ini senang sekali rasanya, tapi sayang di ujung malam hari ini berending tak bagus. Dari tadi aku sms i.g tapi tak dibalas-balasnya. Ku telpon malah di reject. Aku hanya khawatir. Aku hanya ingin tahu sudah sampai di rumah belum. Tega. Benar-benar tega. Ah…itukan haknya kupikir. Tapi apalah susahnya tinggal balas smsnya “iya abang sayang, i.g dah sampai dirumah” (ngarep pake’ sayang).
***
Setelah banyak berbagi kisah dengan i,g hari ini. Dan sebelum hari ini juga. Sering berbagi cerita, berbagi pendapat via sms, dan di facebook aku hanya ingin mengatakan sekali lagi apa yang kutulis di pertengahan cerita ngawur ini; Kami tak pernah sepakat dalam mengartikan cinta, ia tetap dengan prinsipnya dan aku tetap dalam pemaksaan terhadap keinginanku yang selalu kusebut atas nama cinta. Di setiap senja, di belakang rumahku seharusnya kami membuat kesepakatan untuk mengartikan cinta. Tapi ia masih tetap dengan prinsipnya.
***
Oya…aku mengaku kalah kepada para akademisi. Aku mohon ma’af dengan analisisku dan aku juga minta ma’af telah berani mengajak kalian taruhan.

“Serpihan cerita yang terbuang dari bumi khatulistiwa”
Coretan kata-kata terjelek dari penulis terbodoh


Selesai kutulis di pelosok kobar. Dirumah baruku
3 maret 2010, pukul 00.00 wib
Ais. Orang aneh