skip to main |
skip to sidebar
RSS Feeds
coretan kata-kata terjelek dari penulis terbodoh
coretan kata-kata terjelek dari penulis terbodoh
01.22
Diposting oleh Haris Firmansyah
Oleh : a’is
“Hai Dan...!!kau ikut seminar juga ya...??”. tanya Harfi
“iya Har, kau ikut juga kan”. Jawab Hamdan sambil memegang tasnya yang penuh dengan buku.
“katanya seminar dicencel jam 8 malam nanti diPCC”.
“yang benar Har?waduh gimana ni?mana rumahku jauh lagi di kakap”.kata Hamdan menunjukan wajah kecewa karena seminar ditunda sampai jam 8 malam.
“iya, temanku ada yang jadi panitia tadi memberi tahuku. Tunggu aja sebentar lagi pasti ada pengumuman dari panitia”. Jawab Harfi tenang padahal ia kecewa sekali dengan kinerja panitia yang tidak konsisten dengan waktu.
Pagi itu seharusnya seminar sudah dimulai sejak jam 8 pagi dikampus, tapi kerena panitia mendapatkan informasi dari pemateri yang akan menyampaikan materinya diseminar itu juga ada undangan memberikan seminar yang temanya sama yakni “membangun jiwa muslim sejati di era globalisasi” di PCC jam 8 malam, agar panitia tidak repot mengurus seminar itu di kampus akhirnya panitia menyamakan jadwal di PCC.
Ketika seluruh peserta bingung, kenapa seminar belum juga dimulai? sedangkan sudah satu jam mereka menuggu. Tiba-tiba ada suara yang keluar dari sound sistem yang membuat para peserta diam mendengarkan.
“Perhatian kepada seluruh peserta seminar, kami atas nama panitia meminta maáf karena seminar yang seharusnya sudah dimulai dari tadi akan di pindahkan di PCC jam 8 malam, bagi peserta yang ingin mendaftar untuk seminar di PCC harap menghubungi panitia, pendaftaran terbatas”.
Suasana menjadi gaduh, peserta banyak yang kecewa. Seminar “membangun jiwa musilm sejati di era globalisasi” sudah ditunggu banyak mahasisiwa sejak pengumuman akan diadakannya seminar itu , sebulan yang lalu. Karena pemateri didatangkan dari Jakarta dan merupakan salah satu guru besar dari Universitas ternama di jakarta.
“yok Dan daftar!!peserta dibatas oleh panitia hanya 10 mahasisiwa”. Harfi mengajak Hamdan yang dari tadi masih menunjukan wajah kesalnya.
“aku jadi malas mau ikut, rumahku jauh, mana malam lagi acaranya”.
“ah...kau Dan baru gini aja, kalo mau nuntut ilmu jangan pernah nyerah Dan”. Harfi coba membujuk Hamdan.
“iya deh, yok kita daftar”.
Akhirnya mereka berdua pergi mendatangi panitia untuk mendaftarkan diri dengan segera, tapi sayang pendaftaran sudah ditutup karena sudah 10 mahasisiwa yang mendaftar.
“gimana ni Har??”. tanya Hamdan
“tenang aja kau, aku coba minta tolong dengan temanku yang menjadi panitia”.
Harfi mendatangi temanya itu, Alhamdulillah temannya bisa membantu mereka. Peserta ditambah 2 mahasiswa lagi. Semuanya diwajibkan datang dan harus menggunakan almamater kampus.
“Dan ntar malam kau jemput aku ya...!!, motorku lagi dibengkel”. Seru Harfi
“Ökey bos, aku jemput jam 7.30”
“kalo’gitu aku pulang dulu, Dan”.
“aku juga mau pulang nih, mau istirahat dulu”.
***
Malam ini tidak begitu bersahabat dengan mereka, langit yang biasanya indah dengan taburan tarian bintang, dihiasi cahaya rembulan yang membuat bumi tersenyum gembira, yang seolah-olah bintang, bulan dan bumi bersenda gurau dalam pangkuan langit sambil bertasbih memuji keindahan Ilahi tidak tampak malam ini.Langit meneteskan air mata. Tidak tahu kenapa?.
Bumi basah tersiram hujan walaupun hanya gerimis tapi membuat hati kedua insan yang haus dengan ilmu itu menjadi gelisah, bertanya-tanya dalam hati apakah hujan akan reda? Jam sudah menunjukan pukul 7.30 malam tapi Hamdan tidak tampak batang hidungnya. Harfi yang dari tadi sudah siap, duduk di teras rumahnya dengan menggunakan almamater tampak begitu cemas kalau ia tidak pergi maka ia akan merasa rugi sekali karena seminar ini begitu banyak ilmu yang akan dapat diambil di dalamnya.
Ia coba menghubungi Hamdan tapi hpnya tidak aktif. Hatinya semakin gelisah. 30 menit berlalu tapi Hamdan belum juga kelihatan. Ia lihat ujung gang rumahnya tiba-tiba dari kejauhan tampak lampu motor yang menuju kearahnya.
”alhamdulillah, akhirnya datang juga”.bisiknya dalam hati ternyata memang benar itu Hamdan.
“lama kali kau Dan??”.tanya Harfi
“sory, tadi motorku di pakai ayah”. Jawab Hamdan tenang.
“hp kau napa tidak aktif??”.Harfi masih penasaran
“ooo..hpku batrainya habis lupa dicas”.
“ya udahlah, yok berangkat dah telat ni!!”.
“aku numpang buang air kecil and besar dululah, udah kebelet ni”.kata Hamdan melihatkan wajah yang memang munujukan sudah tidak tahan lagi sambil mengambil kunci mtornya dan terus menggulung celana jeansnya sampai kelutut.
Mereaka lalu masuk kerumah, Harfi duduk dikursi teras menuggu Hamdan. Hamdan masuk kerumah dan melepaskan jaketnya lalu menuju WC. Beberapa menit kemudian Hamdan sudah selesai dari menabung emas-emasnya di bank yang tidak mungkin dirampok.
“udah Dan??,yok berangkat. Dah jam 8.20 ni”. Seru Harfi yang sudah tidak sabar mau pergi.
“yap...sekarang kita bisa berangkat dengan tenang, tapi kunci motorku mana ya..???”. tanya Hamdan yang sambil meraba-raba pakaian yang dipakainya.
“tadi kau letakan dimana??ada-ada aja kau ni”.tanya Harfi kesal
“kalo’ aku tahu, aku ngga’ tanya lagi, udah kita cari dulu”. Jawab Hamdan
Di bawah hujan gerimis itu. Harfi sibuk memeriksa jaket Hamdan mungkin kunci ada disitu tapi ia tidak menemukannya, sedangkan Hamdan mencari di halaman rumah tapi tidak juga ditemukan kuncinya. Orang-orang yang ada dirumah heran melihat mereka kemudian bertanya ada apa, Harfi menjelaskan semuanya. Semua yang ada dirumah kasihan melihat mereka dan membantu mencari kunci motor Hamdan. Jumlah yang mencari sekarang menjadi tujuh orang karena yang ada dirumah cuma lima orang.
Semua sibuk mencari tapi tidak juga dapat. Satu jam berlalu, akhirnya mereka semua menyerah dan naik keteras rumah.
“coba kau periksa lagi, pakaianmu itu Dan mungkin ada”.kata harfi
“udah dari tadi aku periksa, tinggal bugil aja belom”.jawab hamdan yang kesal , semuanya tertawa mendengar kata-kata hamdan.
“pasti letak kuncinya, tempatnya bagus banget ni Dan”.timpal Harfi yang juga kesal.
“itu pasti”.
“ya udah, coba buka kepala motornya hidupakan pake ’kabel dalamnya aja”. Suruh kakek Harfi.
Harfi masuk kerumah mengambil perlatan motor. Tidak lama kemudian Hamdan mencoba melaksanakan nasehat kakek dan hasilnya motor bisa dihidupkan tanpa kunci.
Mereka pun masih nekat pergi ke seminar itu walaupun dalam keadaan basah dan terlambat, menerjang angin dan hujan demi sebuah ilmu yang begitu mahal dan berharga.
***
Tidak jauh keluar dari gang, Hamdan merasa kedingiginan.
“kok dingin ya.. Har???”. Tanya Hamdan.
“nggak juga tu..., tu celanamu belum diturunkan kali”.
“oya...., pantasan aja dingin”.
Hamdan yang membawa motor sambil menundukan kepalanya dan menurunkan celananya, tiba-tiba ada yang jatuh.
“Apa tu Dan ??”.
Hamdan berhenti, melihat apa yang jatuh.
“ya..Allah, ni kunci motornya Har”. kata Hamdan yang kaget ternyata kunci motornya ada digulungan celananya.
“ha...ha...,bodoh kali kita Dan”. Harfi tertawa
“ya...udahlah, takdir. Yok naik motor ntar acarnya keburu selesai”.
Mereka pun terus menuju PCC, dalam perjalanan tidak henti-hentinya mereka tertawa memikirkan kebodohan mereka sendiri mencari kunci motor yang ternyata ada dalam gulungan celana jensnya Hamdan.
***
Sesampainya di PCC mereka heran melihat motor banyak yang keluar dari gedung yang megah nan indah itu.
“kok pada keluar dari PCC ya.. Dan???”. tanya Harfi yang penasaran.
“manaku tahu”.
“coba kau lihat jam, jam berapa sekarang??”. Perintah Harfi
“jam 10.15, ya...ampun Har acaranya sudah selesai”
“HA....ha....ha....”. Harfi tertawa lagi, Hamdan juga ikut tertawa.
Untuk kedua kalinya mereka menertawai kebodohan yang mereka lakukan.
selesai