skip to main |
skip to sidebar
RSS Feeds
coretan kata-kata terjelek dari penulis terbodoh
coretan kata-kata terjelek dari penulis terbodoh
05.24
Diposting oleh Haris Firmansyah
BANGSA ini penuh dengan sejarah yang kelam, namun sarat akan makna dan ilmu. Sayang sekali jikalau sejarah yang ada di bangsa tercinta ini diabaikan begitu saja, tapi itulah kenyataannya sejarah selalu diremahkan, hanya dengan alasan ”yang sudah terjadi, sudahlah lupakan saja”. Sebenarnya yang sudah terjadi itu dapat dijadikan pelajaran untuk memperbaiki masa depan bangsa ini.
Salah satu sejarah yang sangat dramatis adalah Pristiwa Mandor, mungkin tidak banyak yang tahu tentang sejarah ini (Ma’af! ”tidak tahu atau tidak mau tahu”). Peristiwa yang terjadi sekitar tahun 1942-1945 ini telah memakan korban yang tidak sedikit. Namun, suara kesengsaraan rakyat yang menjerit keras seakan tertutupi oleh awan tebal yang sangat pekat. Kita selalu dipaksakan untuk meresapi kesengsaraan rakyat tanah jawa yang pada dasarnya sama susahnya dengan kesengsaraan yang terjadi di Kalimantan Barat sehingga kita melupakan sejarah daerah kita sendiri. Padahal, pada zaman pendudukan Jepang adalah merupakan suatu masa yang diselimuti oleh kelaparan, derita, kemiskinanan, ketakutan, air mata, dan darah. Masa suram semacam itu tidak hanya terjadi di pulau Jawa atau Sumatra, tetapi malanda semua penjuru tanah air termasuk Kalimantan Barat. Satu generasi terbaik kalimantan barat telah habis dibantai. Rekayasa atau tidak, yang pastinya lebih dari 1.000 nyawa terlanjur lenyap. Mereka tewas di ujung samurai dan bedil senjata balantara Jepang. Dapat kita bayangkan, jika generasi terbaik itu tidak dibantai, mungkin Kal-Bar akan tidak terperuk seperti saat ini.
Mungkin bisa dikatakan bahwa sejarah ini tidak dilupakan hanya saja diabaikan. Pemerintah contohnya, mereka sudah mulai tampak memperhatikan hal ini, untuk mengenang para pejuang yang menjadi korban keganasan tentara Jepang di Kal-Bar, maka pemerintah Daerah Tingkat I Kal-Bar mendirikan monumen di Mandor sebagai simbol adanya perjuangan dan perlawanan terhadap Jepang di Kal-Bar pada tahun 1976/1977. kompleks monumen dilengkapi dengan plaza yang luas, di kiri - kanan monumen dibuat dinding beton, masing-masing berukuran 15x2,5 m berhiaskan relief. Monumen ini diarsiteki ir.M.Said Djafar, desain relief oleh seniman lukis Kal-Bar Syekh Abdul Aziz Yusnian dan pembuatan relief oleh Hermani Cs. Monumen itu diberi nama ”Monumen Makam Juang Mandor”. Selain itu pemerintah dengan bertujuan untuk menumbuhkan rasa saling menghargai dan menanamkan rasa cinta pada bangsa dan negara, disamping juga untuk mengenang peristiwa Mandor, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Peraturan Daerah NO.5 Tahun 2007 menetapkan tanggal 28 Juni sebagai Hari Berkabung daerah (HBD) Kalimantan Barat. Tanggal ini diambil karena bertepatan dibangunnya Monumen yang diresmikan bersamaan dengan ziarah massal 28 juni 1977. sejak peraturan itu ditetapkan maka mulai tahun 2007 setiap tanggal 28 Juni dilakukan pengibaran setengah tiang di kantor-kantor instansi pemerintah dan masyarakat.
Sungguh sangat luar biasa perhatian pemerintah, namun kita sudah ketahui bersama, bagaimana keadaan hari-hari bersejarah lainnya di bangsa indonesia, sejarah akan selalu menjadi romantisme masa lalu yang hanya menjadi kenangan bukan sebagai History as past actuality, sejarah sebagai peristiwa yang patut dipelajari tidak hanya dikenang sehingga generasi masa depan bangsa ini akan selalu tumbuh dengan sifat dan rasa nasionalisme yang tinggi tanpa menghilangkan jati diri bangsanya.
Kita sebagai masyarakat juga harus peduli untuk memperhatikan masalah ini, kita harus memulai dari diri kita sendiri untuk terus memperhatikan sejarah Lokal dan bukan hanya peristiwa mandor saja, agar sejarah Kal-Bar mulai terangkat kepermukaan dan bisa menjadi sejarah yang berskala nasional, jika kita tidak ingin sejarah Kal-Bar hanya sekedar menjadi cerita rakyat yang semakin dilupakan dari generasi-kegenerasi. Harapan kita semua agar sejarah lokal dapat dimasukan di kurikulum dalam mata pelajaran sekolah Muatan Lokal agar generasi muda Kal-Bar mengetahui sejarah daerahnya sendiri, jadi sejarah nantinya bukan hanya menjadi ritulyang dilakukan setahun sekali, tapi dapat menjadi media pembelaaran secara terus menerus dan pembentukan nilai-nilai luhur dalam memahami sejarah.